Akhir-akhir ini marak sekali hastag #kaburajadulu di media sosial. Hastag ini tak pernah luput terpampang dalam komenan netizen di berita-berita pilu situasi Indonesia saat ini: entah itu dari ekonomi, politik, dan sosial. Hastag ini merupakan bentuk ekspresi dari kekecewaan masyarakat oleh kebijakan-kebijakan dan aktivitas pemerintah akhir-akhir ini yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat, dan motivasi untuk kabur ke luar negeri yang dirasa lebih menjanjikan. Pemerintah seolah tidak bisa membaca skala prioritas dari apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Mereka seakan-akan tidak mengindahkan pendidikan, kesehatan, dan bencana iklim. Secara akademis, kebijakan efisiensi yang mengkerdirkal sektor pendidikan hanya akan membuat masa depan pendidikan di Indonesia terancam akibat kurangnya insentif dari pemerintah. Apa yang terjadi? Akan banyak sekali SDM berkualitas yang akan lari dari negeri sendiri ke negeri seberang guna mendapat pendidikan yang layak, berkualitas, dan memadai. Tak jarang dari mereka akan menetap dan berubah kewarganegaraan sebab kehidupan di negeri lain yang lebih sejahtera. Fenomena seperti ini akan berimbas pada pembangunan negeri yang pada akhirnya terhambat akibat kekurangan SDM berkualitas.
Jika mengikuti pola sejarah, kasus brain drain seperti ini pernah terjadi pada masa rezim Adolf Hitler memimpin Jerman. Rezim NAZI dikenal sebagai rezim fasis anti Yahudi yang membantai siapa saja berdarah Yahudi. Akibatnya masyarakat Yahudi yang tinggal di German terpaksa bermigrasi ke negara-negara lain seperti USA, Eropa Timur, Afrika Selatan, dan lain-lain guna mencari perlindungan dan kesejahteraan. Banyak sekali di antara para Yahudi itu merupakan ilmuwan-ilmuwan hebat, salah satunya Albert Eintein. Pengusiran dan pembantaian Yahudi oleh NAZI tidak disadari sebagai tindakan pelenyapan SDM berkualitas yang berpotensi membangun negeri mereka. Selain Jerman, Brain Drain juga pernah menjangkiti India pada 1960an. Pada masa itu banyak sekali intelektual dan tenaga kerja terbaik dari India yang bermigrasi ke Amerika Serikat karena termotivasi oleh fasilitas penelitian yang memadai, kualitas hidup, dan gaji yang lebih besar. sebagian dari mereka telah putus asa terhadap kondisi sosial mereka di tanah air: macet, gersang, kriminalitas tinggil, serta gaji yang tidak sepadan dengan effort yang telah dikeluarkan. Akibat dari Brain Drain ini, devisa Amerika mengalir sangat deras dan India hanya bisa menggigit jari kehilangan SDM terbaiknya.
Namun, Brain Drain tidak selalu berujung pada akhir yang buruk. Dulu Tiongkok pada era Deng Xiaoping melakukan reformasi besar-besaran terhadap: sistem Ekonomi, kebijakan ketat bagi investor asing, kebijakan moneter, ekspansi ekspor, dan konsumsi dalam negeri Tiongkok. Reformasi ini dilakukan atas kesadaran tertinggalnya Tiongkok dengan negara-negara lain di masa kepemimpinan Mao Zedong. Salah satu yang menjadi fokus pada reformasi ini yaitu pendidikan. Skema pendidikan ala Deng Xiaoping berusaha menghidupkan kembali wacana pertukaran pendidikan dengan barat. Deng Xiaoping mengusulkan slogan, “Sains dan Teknologi adalah kekuatan produksi utama” setelah terpesona dengan teknologi-teknologi dari negara lain seperti pesawat Boeing atau Shinkansen dari Jepang. Maka dari itu, pada era reformasi besar-besaran setelah kematian Mao Zedong ini, cukup besar gelombang pelajar dari Tiongkok yang dikirim ke luar negeri untuk belajar; meniru; dan mengaplikasikannya di Tiongkok. Alhasil pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, sosial, dan teknologi di Tiongkok naik tajam, menjadikannya salah satu raksasa yang digadang-gadang akan melampaui negara adidaya: Amerika Serikat.
Sebenarnya jika kita mengulik dari beberepa peristiwa tersebut, brain drain adalah pisau bermata dua; bisa melukai dan menjadi senjata. Tergantung bagaimana cara kita memakainya. Hastag #kaburajadulu mungkin bisa menjadi solusi atas SDM Indonesia yang di cap rendah dan tertinggal oleh negara lain jika dilihat dari sudut akademik. Motivasi untuk belajar di luar negeri guna menyerap segala perkembangan pengetahuan dan peradaban yang diklaim lebih maju 100 tahun, bisa menjadi modal guna membangun Indonesia saat mereka pulang nanti dan menerapkan ilmu yang telah dipelajar –seperti para pelajar Tiongkok di masa reformasinya. Namun, hastag #kaburajadulu bisa menjadi bumerang terhadap negara. Para pelajar yang belajar di luar negeri; selesai menimba ilmu dan segala peradaban akan terlena oleh kehidupan ‘wah’ dan lingkungan yang lebih baik dari negara sendiri bisa saja memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan.
Dilihat melalui kacamata akademis, semua orang sepakat bahwa pendidikan di indonesia tertinggal jauh dari negara-negara lain, dan saat ini Indonesia tengah memegang pisau bermata dua (brain drain) tersebut. Semua tergantung bagaimana cara menggunakannya. Semoga pisau itu tidak malah menggorok leher sendiri akibat efisiensi anggaran pada sektor pendidikan dan kurangnya apresiasi negara terhadap ilmu pengetahuan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan negara agar pisau ‘ini’ bisa digunakan untuk kebermanfaatan bersama. Pertama, pemerintah perlu menyadari bahwa migrasi SDM akademis dan berkualitas ke negeri lain merupakan sebuah polemik serius dan krusial; kedua, pemerintah perlu memberikan fasilitas dan infrastruktur yang mumpuni bagi sektor pendidikan guna mencegah terkurasnya SDM berkualitas; dan ketiga, pemerintah perlu memberikan gaji yang kompetitif dan manusiawi kepada pelaku-pelaku di sektor pendidikan.
Penulis : Aldani
Editor : Deo
