Thursday, 5 November 2026
Feature / Kolom

Menilik Kesejarahan G30S/PKI dalam Novel Cantik Itu Luka

Oleh : : - Waktu Baca 4 menit
6201fadf2c678
Sumber: twitter.com/ gramedia

[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 26/9/2022]

Lepas sebulan penuh selama Agustus, masyarakat Indonesia memperingati proklamasi kemerdekaan. Lalu, pada bulan September juga menjadi peringatan dalam bingkai kesejarahan. Tepat 57 tahun yang lalu, sebuah peristiwa besar sekaligus kelam telah terjadi di Indonesia. Tahun-tahun berikutnya, masyarakat kita mengenang peristiwa tersebut dengan sebutan G30S/PKI yang diperingati setiap tanggal 30 September dengan melalui tradisi pemutaran film dokumenter di sekolah-sekolah.

Selain melalui film, kita juga dapat menilik peristiwa G30S/PKI melalui karya sastra. Satu diantaranya adalah novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Novel setebal 537 halaman itu bercerita tentang seorang gadis bernama Dewi Ayu yang menjalani hidup dalam dua zaman penjajahan, yakni zaman Belanda dan Jepang. Melalui kisah Dewi Ayu, novel ini mengajak pembaca untuk melihat pergolakan G30S/PKI dari sudut pandang yang berbeda dengan yang selama ini kita kenal. Kemahiran Eka Kurniawan dalam mengolah alur cerita sukses membuat para pembaca takjub terhadap narasinya yang mengenai perjalanan hidup Dewi Ayu hingga persoalan bagaimana paham komunisme menjalar sampai ke daerah terpencil yang jauh dari Ibukota.

Kisah perjalanan Dewi Ayu dimulai dari sebuah kota bernama Halimunda. Ia merupakan seorang pelacur pada zaman Jepang dan atas pekerjaannya itu, ia melahirkan tiga anak perempuan berparas cantik. Anak sulungnya bernama Alamanda. Alamanda tumbuh menjadi gadis binal, ia menjalin ikatan dengan seorang pemuda bernama Kliwon. Menginjak dewasa, ia dikagumi oleh sosok veteran yang dipanggil “Shodanco” dan Alamanda terpaksa menikah dengannya. Sakit hati, Kliwon membawa Alamanda pergi meninggalkan kota dan memilih untuk hidup di pesisir bersama para nelayan. Hari-harinya ia habiskan dengan membaca buku-buku komunisme dan pemikiran Marx. Ia kemudian tergabung dalam serikat partai komunis di Halimunda. Seiring berjalannya waktu, Kliwon tumbuh menjadi pembela kepentingan para nelayan.

Nelayan di Halimunda menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari ‘penguasa’ setempat. Penindasan demi penindasan dijatuhkan pada para nelayan hingga kehidupannya di ambang kesengsaraan. Puncaknya, saat Sang Shodanco mendatangkan kapal-kapal besar untuk menangkap ikan secara massal di perairan Halimunda.

Kondisi tersebut menyulut perlawanan dari kaum nelayan dan sebagai tamengnya, Kliwon-lah pemimpin perlawanan tersebut. Partai komunis Halimunda bergerak untuk menyerang balik kapal-kapal tersebut. Kliwon bersama beberapa rekannya menghimpun kekuatan dengan membentuk “Serikat Nelayan” sehingga pasukan partai komunis semakin banyak. Akhir dari perlawanan itu ketika kapal-kapal Shodanco dibakar setelah melalui perencanaan yang panjang. Inilah awal mula partai komunis menunjukkan eksistensinya di Halimunda dalam pertentangan terhadap kekuasaan militerisme.

Beberapa waktu setelah peristiwa terbakarnya kapal-kapal Shodanco, tepat pada 30 September 1965, terjadi sebuah pemberontakan yang menyebabkan terbunuhnya enam jenderal besar Republik Indonesia. Pemberontakan tersebut dikabarkan sebagai kudeta terhadap pemerintah RI yang dilakukan oleh partai komunis di Jakarta. Peristiwa tersebut menandai titik awal jatuhnya reputasi Partai Komunis Indonesia.

Pemerintah kemudian melakukan sweeping atau penumpasan terhadap sisa-sisa komunisme di Indonesia. Penumpasan itu juga terjadi di kota fiksi Halimunda. Kota tersebut digambarkan menjadi kota berdarah. Orang-orang yang terindikasi menjadi pengikut komunis dibantai dan dilakukan tracking hingga ke akarnya. Kota Halimunda diliputi bau anyir, ketakutan, dan kecemasan. Novel Cantik Itu Luka ditutup dengan penentuan nasib anak-anak dan cucu Dewi Ayu. Jika ditarik benang merah, novel ini merupakan kisah tentang kutukan dan karma atas penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Dewi Ayu terhadap bangsa Indonesia (Dewi Ayu merupakan perempuan keturunan Belanda yang sejak masa itu kakek-neneknya menjadi bagian dari penguasa kolonial). Untuk masa sekarang dan yang akan datang, Cantik Itu Luka menjadi versi yang ‘menyegarkan’ dengan narasi tentang G30S/PKI yang selama ini dipahami oleh masyarakat. Novel ini mampu melahirkan sudut pandang baru terhadap peristiwa G30S/PKI. Apakah sudut pandang tersebut menguatkan atau justru melawan fakta-fakta sejarah? Hal tersebut dikembalikan lagi pada keputusan pembaca.

Penulis: Arizqa Novi Ramadhani

Editor: Putri Tariza

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *