Saturday, 7 November 2026
Kolom / Opini

Merdeka Belajar, Mampukah Memulihkan Pendidikan Imbas Pandemi?

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
Children 3355607

[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 11/5/2022]

Selama hampir dua tahun, aktivitas belajar mengajar terjebak di tengah masifnya penyebaran virus Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Sekolah-sekolah ditutup dan mengalihkan kegiatan belajar secara daring dari rumah. Bahkan, beberapa siswa terpaksa memilih putus sekolah. Praktis, keadaan ini berdampak pada merosotnya nilai moral maupun pengetahuan pelajar di Indonesia.

Namun, tren kasus Covid-19 mulai menunjukkan grafik melandai sejak bulan Maret 2022 lalu, sehingga beberapa sekolah mulai menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di kelas secara langsung. Transisi ini menghadapkan guru dan tenaga pendidik kepada fenomena “Pembelajaran Hilang” atau Learning Loss yang dialami oleh banyak pelajar imbas pembelajaran daring selama pandemi. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kesenjangan berkepanjangan antar siswa dalam mengakses pembelajaran daring. Akibatnya terjadi kemunduran akademis peserta didik dan terganggunya proses pendidikan. Jika terus dibiarkan, maka akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang dilahirkan dari pelajar “lulusan” pandemi.

Melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional 2022 dengan tema “Pimpin Pemulihan, Bergerak untuk Merdeka Belajar”, dapat menjadi seremoni perbaikan sistem pendidikan Indonesia yang sempat terganggu setelah Covid-19 merebak dua tahun lalu. Dunia pendidikan sebagai sektor utama penentu kualitas sumber daya manusia negara, amat perlu berbenah dan beradaptasi dengan cepat untuk melawan arus dinamika situasi dunia saat ini. Namun, seberapa efektif program Merdeka Belajar yang digadang-gadang oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim dalam pemulihan pendidikan Indonesia pasca pandemi?

Menilik Peran Merdeka Belajar, program pendidikan Merdeka Belajar merupakan penyesuaian kebijakan untuk mengembalikan esensi dari asesmen yang semakin dilupakan. Fokus dari program ini adalah pembangunan sumber daya manusia dan upaya perbaikan sistem pendidikan nasional. Selain itu, Merdeka Belajar juga merupakan pendekatan yang dilakukan supaya siswa dan mahasiswa bisa memilih pelajaran yang diminati sehingga dapat mengoptimalkan bakatnya.

Melihat penjelasan di atas, tampaknya Merdeka Belajar menjadi gebrakan yang cukup revolusioner untuk menuju jalan keluar dari pendidikan yang selama ini terkesan monoton. Merdeka Belajar hadir menawarkan keleluasaan sistem pembelajaran di sekolah. Fleksibilitas dalam program ini amat sesuai dan diperlukan dalam masa pemulihan sektor pendidikan pasca pandemi. Setiap elemen pendidikan mempunyai kesempatan untuk menentukan jalannya pembelajaran sehingga pemulihan pun dapat lebih mungkin dilakukan.

Lalu, bagaimana terobosan Menteri Nadiem Makarim ini mampu secara nyata melebur dalam sendi-sendi pendidikan Indonesia? Jangan sampai tujuan apik di atas hanya terbang menjadi angan yang tak kunjung terwujud. Diperlukan kolaborasi dan koordinasi antarguru, tenaga pendidik, siswa, wali murid, bahkan Pemerintah. Semua wajib bergerak. Semua wajib berperan. Tak cukup sosialisasi, tapi perlu diikuti dengan implementasi. Empat kebijakan pokok dalam Merdeka Belajar bukan sekadar regulasi, melainkan mampu menyederhanakan sistem pendidikan yang dulunya rumit dan terlalu menuntut kemampuan yang sama antarsiswa.

Tak dapat dipungkiri, menyusun model pembelajaran merupakan isu yang tak kunjung usai diperbincangkan, terlebih ketika pendidikan menjadi ujung tombak kualitas sumber daya manusia. Namun, kehadiran Merdeka Belajar menjadi angin segar di tengah gaduhnya isu kemunduran akademis pelajar Indonesia. Bertepatan dengan Hardiknas atau Hari Pendidikan Nasional, program usungan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini melenggang menjadi solusi atas pemulihan pendidikan yang sempat terguncang oleh pandemi Covid-19.

Penulis: Shofiyah Sajidah

Editor: Dikta Sumar Hidayah

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *