Sabtu (22/04), Presiden Partai Buruh Said Iqbal beri kode dukungan kepada Ganjar, kandidat capres 2024 saat rapat kerja nasional, 14–17 April. Hal tersebut menjadi pertanda kemerosotan moral Partai Buruh yang digadang-gadang sebagai wadah alternatif kaum buruh yang kian tertindas. Ini merupakan penyempalan sejarah buruh. Terlebih, Ketua Tim Khusus Pemenangan Partai Buruh Said Salahudin dalam unggahan akun Instagram Partai Buruh menyatakan, “Yang kita dukung adalah pasangan capres-cawapres. Tidak ada urusan dengan parpol yang mengusung atau mengusulkan pasangan yang kami dukung. Dengan kata lain, Partai Buruh hanya akan bekerja sama dengan capres-cawapres, bukan bekerja sama atau membangun koalisi dengan parpol lain, khususnya parpol yang mendukung Omnibus Law dan UU Cipta Kerja.” Ucapan ini jelas-jelas omong kosong sepanjang sejarah heroik gerakan buruh.
Sejak zaman bergerak hingga pasca-Kemerdekaan, buruh sebagai salah satu penggerak masa selalu tepat posisi: oposisi kekuasaan dengan kesadaran kelas yang bersatu membuat gerakan politik alternatif. Banyak organisasi buruh yang dikenal radikal terhadap zaman penindasan dalam sejarah Indonesia, sebut saja VSTP (Vereeniging Stoom-Tram Personeel), PFB (Personeel Fabriek Bonds), hingga SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Belum lagi, bicara soal pemogokan, agitasi, hingga sabotase yang tidak relevan dengan Partai Buruh hari ini, kian melempem dan reformis.
Buruh sebagai Roda Sejarah
Pasca-Revolusi Industri awal, sejarah berubah. Pertentangan antara tuan tanah dengan petani menjadi pemilik perusahaan vis-a-vis dengan buruh. Menurut Marx, buruh—dalam utopia kaum Marxisme—akan merebut alat produksi kaum borjuis akibat ketertindasan. Pola ini kerap disebut sejarah spekulatif didasarkan proses sejarah temuan Marx “Materialisme Dialektis dan Historis (MDH)” yang mengedepankan kontradiksi kelas. Buruh merupakan kelompok revolusioner yang sadar akan kelas dan ketertindasan sekaligus roda sejarah yang kelak merebut alat produksi. Hal tersebut tentu dapat dilihat dalam banyak corak sejarah masyarakat di seluruh belahan dunia, baik sejak Marx hidup hingga mati, di negara-negara Eropa, ataupun negara-negara belahan ketiga, seperti di Indonesia.
Semua Masyarakat yang Tertindas, Bersatulah: Sebuah Sejarah Bangsa
Awal abad 20, era modernisasi Indonesia, entitas yang lekat dengan slogan “Semua buruh/masyarakat tertindas, bersatulah!” ini nyatanya telah berada di seberang kekuasaan sejak hegemoni industrialisasi dan teknologi Hindia-Belanda. Para buruh tidak diam atas penindasan berlapis. Mereka berkawan dengan tokoh-tokoh pergerakan (priyayi baru) radikal yang muncul akibat politik etis. Faktor lainnya adalah terpantiknya kaum tertindas atas Revolusi Rusia 1917.
Harapan revolusi berembus dari Barat ke Timur. Lenin, salah satu tokoh kunci revolusi Bolshevik akhirnya menaruh perhatian pada negara Timur ataupun negara terjajah. Vijay Prashad dalam Bintang Merah Menerangi Negara Dunia Ketiga, Lenin menyatakan, “Eropa yang terbelakang dan Asia yang maju”, ditambah pembahasan soal negara terjajah dalam Kongres Komintern kedua (1920).
Akhir abad 19, transisi Indonesia dari feodal menuju industri, buruh bermunculan, berhadapan dengan penderitaan berlapis akibat negara dan kapitalisme: sektor ekonomi, objek rasisme, hingga berbagai problem sosial. Akhirnya, kaum buruh mencari jalan kebebasannya sendiri.
Dari pemogokan ke pemogokan, sabotase ke sabotase, hingga pemberontakan melawan kolonialisme, Kota Merah-Hitam: Lintasan Waktu Anarkisme di Semarang menguraikan salah satu awal pemogokan di Jawa (1913). Awak kapal Semarangche Stroomboot en Prauwenveer (SSPV) mengajukan empat tuntutan yang salah satunya tidak dipenuhi hingga terjadilah mogok kerja. Seiring bertumbuhnya partai komunis dan intelektual radikal sebagai corong agitasi propaganda, pemogokan terus terjadi. Bahkan, ketika penangkapan Semaun, para buruh menuntut pemogokan sebab beberapa pimpinannya ditangkap. Akhirnya, pemogokan menjalar ke mana-mana, terutama kota-kota besar Jawa.
Pemberontakan 1926 dianulir PKI, pergerakan buruh mati suri. Buruh yang terlibat dibuang ke Digoel—kamp interniran yang tidak ramah bagi semua orang. Takashi Shiraishi dalam Dunia Hantu Digul: Pemolisian sebagai Strategi Politik di Indonesia Masa Kolonial, 1926-1941 menuliskan, Digoel menjadi represi paling mematikan tokoh radikal dan kaum buruh karena terisolasi dan penuh bahaya. Pemolisian politik ini seiring penerapan Rust en Orde sebagai antitesa politik radikal itu sendiri.
Sejarah Buruh yang Dibelokkan: Sebuah Kesimpulan
Melihat sejarah buruh yang begitu heroik, maka buruh haruslah berdiri berlawanan dengan kekuasaan bersama masyarakat tertindas lainnya. Namun, hal tersebut seakan dibelokkan oleh sikap Partai Buruh yang mengincar kekuasaan dengan logika tak pantas, mengingat Ganjar Pranowo adalah sosok penindas warga Desa Wadas berdalih pembangunan. Ini lebih tak relevan lagi sebab Partai Buruh harusnya dapat membuat politik alternatif bagi masyarakat tertindas, bukan mengikuti jalan politik elektoral yang kian absurd dan tidak memihak rakyat. Bahkan bisa jadi, hanya memihak investor dan partainya sendiri sebagaimana diucapkan Bambang Pacul. Maka, kekuatan buruh tidak diragukan keberadaannya. Sayangnya, kekuatan ini ditumpulkan kelompok elit buruh, lumpen proletariat yang menurut Marx, kelompok berbahaya.
Penulis: Alfian Widi Santoso
Editor: Hurun’in Kamila
