Jum’at (25/08) Fakultas Ilmu Budaya merampungkan rangkaian kegiatan Bradanaya yang mengusung tema “Homodigitalis Metamorfosa Kebudayaan dalam Lanskap Digital.” Kegiatan ospek fakultas ini diikuti 500 lebih mahasiswa baru dari empat jurusan. Membawakan konsep yang berbeda dari tahun sebelumnya, Bradanaya tahun ini diawali dengan display ormawa yang digelar setelah pemberian materi PKKMB fakultas oleh dosen yang bersangkutan. Kemudian dilanjut dengan FGD yang mengusung tema homodigitalis dan talkshow di hari kedua. Lalu ditutup dengan Adya Sadyakala berupa penampilan oleh berbagai ormawa Fakultas Ilmu Budaya.
Sebelum Bradanaya ditutup dengan rangkaian acara Adya Sadyakala, panitia menggelar Talkshow Candrakirana dengan mengangkat dua konsep, yakni pendidikan dan karier. Alasan mendasar mengapa kedua materi tersebut dibahas dalam talkshow adalah mengenai hubungan pendidikan dengan jenjang karier mahasiswa. Mengingat seringnya pertanyaan yang ditujukan kepada mahasiswa humaniora, “Nanti kalau lulus mau jadi apa?”
“Biasanya kita mendalami suatu keilmuan dan mendalami hal itu, tetapi kita juga belum tentu sukses dalam bidang tersebut. Seperti beliau (salah satu pemateri) lulusan sejarah tapi sukses berwirausaha,” ucap Tegar, Ketua Bradanaya.
Tak hanya pendidikan dan karier, pemateri juga memberikan tips dan trik kepada mahasiswa baru mengenai manajemen waktu agar tak hanya aktif dalam kegiatan belajar mengajar namun juga aktif dalam berorganisasi.
“Enjoy, aku jadi kayak tau gitu loh step by step apa yang harus dimulai dalam mengembangkan bisnis itu. Materinya ngga bikin bosen, justru materi hari ini yang paling bisa kita nikmati, yang menurut kita paling berguna, soalnya yang lain-lain kayak ngga tertarik gitu loh,” kata seorang maba.
Meski berlangsung sukses, Bradanaya juga tak luput dari beberapa kekurangan yang patut untuk dievaluasi, mulai dari makanan yang basi hingga miskomunikasi.
“Konsumsinya agak kayak makanan kemarin tapi masih bisa dimakan,” kata seorang maba.
“Dari simulasi hari pertama itu udah banyak miskomunikasi, karena niat awalnya gladi kotor malah kembali membahas rundown,” ucap salah satu panitia.
Reporter : Azlin dan Felsi
Editor : Maya Ayu Nur Aini
