Thursday, 5 November 2026
Seputar kampus

Pembekuan Dicabut, BEM FISIP Unair Nyatakan Tetap Tegak dan Kritis

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
Konferensi Pers
Konferensi pers hasil pertemuan pihak BEM dan dekanat FISIP Unair di depan Gedung Soetandyo Wignyosoebroto, Senin (28/10). Foto: LPM SITUS/Syahirul Gama Afghani

Polemik aksi kritik simbolik berbentuk karangan bunga yang dilayangkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) Universitas Airlangga yang berujung pada pembekuan kepengurusan inti mereka oleh pihak dekanat berlanjut.

Pagi hari tadi, tepatnya Senin (28/10), dilaksanakan forum pertemuan tertutup antara BEM FISIP dengan pihak dekanat. Adapun pihak BEM diwakili oleh Presiden BEM FISIP Tuffahati Ullayyah, Menteri Kementerian Politik dan Kajian Strategis M. Rizaldi Mahendra, dan beberapa staf lainnya. Mereka menghadap langsung Dekan FISIP Bagong Suyatno. Forum dilakukan dalam beberapa waktu. Pasca pertemuan, digelar konferensi pers di area depan Gedung Soetandyo Wignyosoebroto, lokasi pertemuan tertutup tersebut.

Bambang dalam keterangannya menyatakan bahwa alasan tindakan pembekuan kepengurusan dikarenakan viralnya aksi kritik pada Sabtu (26/10) dan Minggu (27/10) sehingga pihak dekanat berhalangan untuk mengadakan pertemuan langsung dengan presiden BEM FISIP.

“Seandainya kemarin tidak hari libur, mungkin ndak perlu ada surat, ya. Sudah bisa segera ketemu,” sambung Bambang.

Dirinya menyatakan kekhawatiran atas penilaian pihak-pihak tertentu yang merasa pimpinan fakultas melakukan pembiaran aksi kritik simbolik yang menurutnya termasuk dalam pelanggaran etika akademik dan tidak benar secara politik.

Pertemuan antara pihak BEM dan dekanat menghasilkan pernyataan akan dicabutnya SK Pembekuan Kepengurusan BEM FISIP Unair oleh dekanat atas kesepakatan kedua belah pihak berdasarkan keterangan Bambang dalam konferensi pers.

Tuffa selaku presbem kemudian menyatakan ucapan terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan dari semua pihak seiring polemik ini bergulir. Ia menyatakan bahwa persoalan ini tidak menghentikan langkah kritis BEM kepada pemerintah.

“Ke depannya, kami tetap kritis, kami tetap tegas, kami akan tetap berani dalam menggunakan diksi-diksi,” tutur Tuffa.

Keputusan ini menurut Tuffa merupakan keputusan yang terburu-buru. Ia merasa bahwa banyak cara lain yang mampu ditempuh oleh dekanat dalam menyelesaikan persoalan ini, alih-alih langsung mengambil langkah pembekuan.

Keterangannya berlanjut soal berbagai intimidasi dan tekanan dari pelbagai pihak eksternal tak dikenal yang dilontarkan padanya serta kawan-kawannya selama polemik bergulir.

“Bentuk intimidasinya mungkin berbeda-beda, ya. Cuman kalo saya, melalui telepon, video call, spam chat, serta DM Instagram, dan lain-lain. Namun, kami akan berkonsultasi dengan LBH untuk tahu apa yang perlu kita lakukan,” imbuhnya.

Baginya, ancaman-ancaman tersebut tidak berdampak apa bagi mereka.

“Oh tentu tidak, tidak berpengaruh apa-apa bagi kami dan kawan-kawan BEM FISIP Unair,” tegas Tuffa.

Reporter: Syahirul Gama Afghani, Hurun’in Kamila

Editor: Kamila

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *