(09/03/2026) – Suara perempuan harus terus dikumandangkan. Tahun ini, puncak dari perayaan International Women’s Day 2026 digelar dalam bentuk Long March yang berawal dari Jalan Basuki Rahmat dan berakhir di muka Gedung Grahadi Surabaya dengan jargonnya “Ayo Rek! Saling Njogo, Saling Nguatno”. Peringatan yang menandai tahun ke-115 aksi IWD ini dirayakan oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, komunitas, serta individu di Surabaya. Selama lebih dari satu abad, para puan memperjuangkan kebebasan untuk dirinya dan kelompok-kelompok marjinal lainnya, seperti yang tertera pada 23 tuntutan demonstrasi ini yang mencakup desakan dibentuknya perlindungan terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya, penghentian diskriminasi, hingga penguatan regulasi hak asasi manusia, lingkungan, ekonomi, militer, dan lainnya. Ketekunan pelaksanaan aksi IWD dilakukan agar perempuan dapat berdiri di kaki sendiri dan mendapatkan kebebasan, salah satunya adalah kebebasan dalam berpendapat.
Aksi Long March International Women’s Day 2026 kali ini menghadirkan beberapa kegiatan yang mengundang antusiasme para massa, yaitu mimbar bebas, teater, puisi, musik, dan monolog. Sebanyak 13 orator dari berbagai komunitas mengumandangkan orasi mereka di atas truk sembari membawa kertas berisikan pesan mereka terhadap kondisi Indonesia saat ini yang berkaitan dengan 23 tuntutan yang mereka jinjing dalam aksi ini. Tak hanya mengangkat isu perempuan, beberapa dari mereka juga menyinggung berbagai akar dari permasalahan yang mengakibatkan ketidakadilan terhadap kaum perempuan dan kelompok marjinal di negeri ini. Salah satunya adalah adanya intensitas rezim kapitalisme yang diprakarsai oleh pemimpin negara kita saat ini. Tak hanya itu, seorang orator juga menyinggung bagaimana sistem kapitalis di Indonesia ini menghasilkan individu-individu yang sulit mendapatkan pekerjaan. Selebaran-selebaran kertas berisi berbagai isu dan tuntutan yang dibahas ini dibagikan agar dapat dibaca oleh para peserta aksi, serta dapat diakses melalui laman bit.ly/46QzdhY.
Namun, sebelum aksi Long March dilaksanakan, sekitar pukul 13.40 WIB, di depan Gedung Grahadi juga berlangsung demonstrasi oleh sekelompok buruh perusahaan yang menuntut dicairkannya Tunjangan Hari Raya (THR) dari Gubernur Khofifah dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) melalui orasi yang mereka sampaikan. Orasi yang menyatakan keluh kesah sekaligus tuntutan para buruh tersebut berakhir pada pukul 13.52 WIB.
Long March International Women’s Day 2026 bergerak pada pukul 14.19 setelah kurang lebih dua menit terjebak macet. Aksi ini bergerak dari depan McD Basuki Rahmat yang kemudian menelusuri tepi kiri jalan. Massa demonstrasi menyanyikan Lagu Buruh Tani dengan bersemangat sambil membawa poster-poster yang mereka angkat setinggi mungkin dengan truk orasi yang mengiringi dari belakang, mengawal mereka hingga ke depan gerbang Gedung Grahadi Surabaya. Poster-poster tersebut dikemas dengan desain yang kreatif namun berisi pesan serius, seperti “Give to Gain”, “Cat Against Cat Call”, “Banjir Tiap Tahun, Korupsi Tiap Musim, yang Kering Cuman Keadilan”, dan masih banyak lagi.
Setelah menelusuri tepi kiri jalan raya dan berhenti di depan gerbang Gedung Grahadi Surabaya, aksi dilanjutkan dengan penyampaian orasi yang dilontarkan oleh kurang lebih 13 orator. Tak sedikit pula perempuan buruh yang sebelumnya telah menuntut hak THR-nya dan ikut menyuarakan hak-hak sebagai pekerja perempuan, seperti keamanan dalam lingkungan kerja. Penyampaian deretan orasi berlangsung sejak pukul 14.27 WIB dan berakhir pada pukul 15.43 WIB yang kemudian langsung disambung oleh pertunjukan teater singkat oleh perwakilan teater dari Sosiologi FISIPOL UNESA.
“Saya pribadi sebagai perempuan butuh diperjuangkan haknya, karena banyak banget kasus yang melecehkan, merendahkan, serta tidak mengutamakan hak perempuan,” tutur seorang perwakilan perempuan dari teater milik Sosiologi FISIPOL UNESA tentang alasan pelaksanaan aksi ini penting bagi dirinya. Beliau menganggap bahwa perempuan merupakan “warisan peradaban” sehingga masyarakat perlu lebih aware terhadap hak-hak perempuan yang perlu diperjuangkan.
Pentas teater tersebut terpaksa menjadi sajian penutup dari aksi yang sempat terhenti akibat hujan deras ini. Sebelumnya, awan mendung memang telah menemani aksi Long March IWD ini sejak acara dimulai, menemani para orator yang tetap bergantian memegang mikrofon dan menggaungkan suara mereka untuk aksi ini walau hujan menghujam. Dirasa terlalu deras, aksi ini kemudian hendak dijeda sementara hingga hujan reda pada pukul 16.30 WIB, tetapi akhirnya aksi Long March International Women’s Day diakhiri pada pukul 16.38 WIB dengan ditandai bergeraknya sejumlah massa aksi dan penyelenggara ke Balai Kota untuk membagikan takjil.
Menutup rangkaian acara, kegiatan IWD ini meninggalkan jejak kesan dan harapan bagi para massa. Hal ini seperti yang dituturkan oleh salah satu orator IWD sekaligus Pengurus Departemen Perempuan FPSMI, Eka Harnawati. “Hak perempuan itu harus diperjuangkan dan diadvokasi, baik di lingkungan kerja maupun perundang-undangan,” ujarnya. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa pembahasan kebijakan ratifikasi terkait Konvensi ILO 190. Berdasarkan Komnas Perempuan, Konvensi ILO 190 menegaskan hak-hak dasar dalam pekerjaan, prinsip kesetaraan dan nondiskriminasi bagi perempuan serta kelompok rentan juga menjadi prioritas dalam konvensi ini. Hal ini harus dibahas setuntas-tuntasnya dan diimplementasikan secara nyata demi memberikan penjaminan keamanan bagi perempuan. “Kami berharap aturan-aturan tersebut dapat diimplementasikan sehingga kami para pekerja perempuan ini merasa terlindungi. Dan jangan membuat aturan yang hanya tulisan saja, tapi implementasinya tidak ada.”
Reporter: Anin, Balqis, Medin, Rani
Editor: Agiesya
