Thursday, 5 November 2026
Berita / Seputar kampus

Posisi Dekan Hak Prerogatif Rektor: Apa Guna Presentasi Gagasan?

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
Sumber: dokumen pribadi - Nira

Selasa, 26 Agustus 2025, tepat pukul 09.00 WIB Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) mengadakan Uji Publik Calon Dekan Fakultas Ilmu Budaya periode 2025-2030. Kegiatan yang digelar di Ruang Chairil Anwar lantai 2 gedung FIB ini memfasilitasi adu gagasan antar dua kandidat calon dekan FIB, yaitu Syahrur Marta Dwi Susilo, S.S., M.A., Ph.D. yang merupakan dosen Bahasa & Sastra Jepang dan Lina Puryanti, S.S., M.Hum., Ph.D. yang merupakan dosen Bahasa & Sastra Inggris. Sang moderator, Fadli Ama S.T, M.T, ditemani oleh dua panelis, yakni Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog dan Dr. Maradona, S.H., LL.M. Acara yang berlangsung hingga pukul 11.00 WIB ini juga dihadiri oleh dekan FIB UNAIR, Prof. Dr. Purnawan Basundoro S.S., M.Hum, – beliau sebutkan bahwa kegiatan ini diselenggarakan setiap 5 tahun sekali.

Masing-masing kandidat memiliki program unggulan yang menjadi tolok ukur kepantasan keduanya. Syahrur Marta selaku kandidat pertama mengusung judul “Fakultas Ilmu Budaya UNAIR Sebagai Pusat Perkembangan Budaya Kreatif yang Berdampak dan Berkelanjutan”. Sedangkan kandidat kedua, Lina Puryani yang saat ini juga menduduki jabatan Wakil Dekan III, mengusung judul “Together In And For The World”. Kedua kandidat memiliki kesamaan untuk mendirikan program studi baru di FIB UNAIR, terlebih Lina Puryani yang langsung terfokus pada pendirian Chinese Studies. Berbeda dengan Lina, Syahrur lebih memilih untuk mengkaji kesiapan dan kebutuhan terkait pendirian program studi baru yang kemudian bisa diputuskan program studi apa nantinya yang akan dibuka.

Ditelisik dari wawancara eksklusif bersama LPM SITUS, pertanyaan seputar peran mahasiswa dalam proses pengambilan kebijakan lingkup fakultas menjadi salah satu fokus utama. Menurut Syahrur, posisi mahasiswa sangat penting sebagai corong aspirasi mahasiswa. “Mendengar aspirasi bisa dari mana saja. Mutualitas. Dosen butuh mahasiswa juga. Perannya sangat penting dan sinkronisasi program antar ormawa.” Akan tetapi, jawaban tersebut terdengar sangat normatif jika terlontar dari seorang calon dekan, yang mana mahasiswa adalah penggerak utama kegiatan kemahasiswaan.

Di sisi lain, pernyataan Lina terkait kesejahteraan mahasiswa, khususnya di aspek ekonomi, dinilai kurang begitu menjawab. Alih-alih menjawab, beliau justru mengalihkan topik pembicaraan pada kondisi kesehatan mental mahasiswa dengan menyebutkan perbedaan kontrol antara kondisi eksternal dan internal mahasiswa yang membutuhkan suatu ‘strategi’ untuk menyeimbangkannya. “Kondisi eksternal itu merupakan sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, tapi kondisi internal itu merupakan sesuatu yang sangat mungkin bisa kita kontrol. Saya kira tentang togetherness itu juga bisa menjadi sebuah kata kunci. Saya berdiskusi dengan beberapa dosen terkait mahasiswa yang punya masalah, ternyata mereka adalah mahasiswa yang ‘kupu-kupu’ atau kuliah-pulang-kuliah-pulang. Sehingga, setiap masalah yang terjadi pada mereka tidak dapat terdeteksi,” Pernyataan tersebut dinilai terlalu mengglorifikasi dan menjustifikasi keadaan mental mahasiswa.

Timbul pertanyaan terkait urgensi digelarnya presentasi gagasan yang dilaksanakan bersama dua kandidat calon dekan ini. Dalam sambutannya pada awal acara, Prof. Purnawan Basundoro menyebut bahwa pemilihan dekan fakultas adalah hak prerogatif rektor. Jika halnya begitu, maka perlu dipertanyakan keabsahannya: apakah pemilihan dekan ini berdasarkan subjektivitas, atau murni berdasarkan kelayakan tiap calon dekan?

Reporter: Nazila, Luvian, Agiesya

Editor: Samuel

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *