Thursday, 5 November 2026
Puisi / Sastra

Puisi

Oleh : : - Waktu Baca 5 menit
Ramadan 4243589
Sumber: pixabay.com/Shri Ram

[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 21/4/2022]

Untukmu, Parapuan Emas Terpancung Patriarki

Karya : Ilham Baskoro/Ilmu Sejarah 2021

Puan

Di tanah patriarki ini

Kau berhasil tumbuh besar

Otak emasmu yang didambakan itu

Berjasa menepis kemiskinan moral masyarakat

Sungguh anomali, namun ini nyata

Puan, mengapa kau hancurkan dirimu sendiri demi patriarki?

Aku tahu,

Puan yang terhormat

Dirimu masih dibutakan ketimpangan kuasa

Dibutakan oleh norma tak realistis

Yang mungkin kau sadari

Tapi tak tahu atau tak kuat untuk melawannya

Puan, jika kau ingin tahu realitanya

Patriarki terselubung itu

Berdalih meng-wanitakan parapuan

Mereka bungkam setiap eksistensi parapuan emas

Dengan aturan menjilat ego para patriarki

Ayolah,

Puan yang terdidik

Lawan air tuba dengan air suci

Lawan kedengkian dengan murah hati

Lawan kesesatan dengan edukasi

Jangan beri kesempatan patriarki menjerat pikiranmu!

Ingatlah Puan!

Kau bukanlah sampah

Kau lebih berharga dari patriarki menjijikan

Buanglah semua kerangkeng tak masuk akal itu

Tengoklah emansipasi parapuan lainnya

Sambutlah kejayaan parapuan emas tanpa patriarki!

Ngabuburit

Karya: Abdul Rahman Oka Fahrudzin/ Bahasa dan Sastra Indonesia 2019

Di bawah senja basah ngabuburit

adalah menunggui tubuh lupa jalan pulang, basi.

Surabaya, 2022

Tadarus

Karya: Abdul Rahman Oka Fahrudzin/ Bahasa dan Sastra Indonesia 2019

sebelum angka-angka ramadan tanggal

manusia menguliti tubuhMu

dalam susunan Hijaiyah

seperti bait puisi yang menemukan ruhnya.

Surabaya, 2022

Puas(a)lah

Karya: Abdul Rahman Oka Fahrudzin/ Bahasa dan Sastra Indonesia 2019

Selepas Tuhan

menciptakan manusia

kesepian adalah bayang-bayang yang menempel di tubuhnya.

dalam kalut sunyi

Tuhan mengerti

ada doa tersembunyi

di kerak bumi, lalu

daun gugur sebagai lantunan dzikir

membawa bidadari di hadapan

mata

“puas(a)lah sebagai syukur, tafakkur, dan mengendalikan yang kuruf-kufur” langit berseru.

Surabaya, 2022

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *