[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 21/4/2022]
Untukmu, Parapuan Emas Terpancung Patriarki
Karya : Ilham Baskoro/Ilmu Sejarah 2021
Puan
Di tanah patriarki ini
Kau berhasil tumbuh besar
Otak emasmu yang didambakan itu
Berjasa menepis kemiskinan moral masyarakat
Sungguh anomali, namun ini nyata
Puan, mengapa kau hancurkan dirimu sendiri demi patriarki?
Aku tahu,
Puan yang terhormat
Dirimu masih dibutakan ketimpangan kuasa
Dibutakan oleh norma tak realistis
Yang mungkin kau sadari
Tapi tak tahu atau tak kuat untuk melawannya
Puan, jika kau ingin tahu realitanya
Patriarki terselubung itu
Berdalih meng-wanitakan parapuan
Mereka bungkam setiap eksistensi parapuan emas
Dengan aturan menjilat ego para patriarki
Ayolah,
Puan yang terdidik
Lawan air tuba dengan air suci
Lawan kedengkian dengan murah hati
Lawan kesesatan dengan edukasi
Jangan beri kesempatan patriarki menjerat pikiranmu!
Ingatlah Puan!
Kau bukanlah sampah
Kau lebih berharga dari patriarki menjijikan
Buanglah semua kerangkeng tak masuk akal itu
Tengoklah emansipasi parapuan lainnya
Sambutlah kejayaan parapuan emas tanpa patriarki!
Ngabuburit
Karya: Abdul Rahman Oka Fahrudzin/ Bahasa dan Sastra Indonesia 2019
Di bawah senja basah ngabuburit
adalah menunggui tubuh lupa jalan pulang, basi.
Surabaya, 2022
Tadarus
Karya: Abdul Rahman Oka Fahrudzin/ Bahasa dan Sastra Indonesia 2019
sebelum angka-angka ramadan tanggal
manusia menguliti tubuhMu
dalam susunan Hijaiyah
seperti bait puisi yang menemukan ruhnya.
Surabaya, 2022
Puas(a)lah
Karya: Abdul Rahman Oka Fahrudzin/ Bahasa dan Sastra Indonesia 2019
Selepas Tuhan
menciptakan manusia
kesepian adalah bayang-bayang yang menempel di tubuhnya.
dalam kalut sunyi
Tuhan mengerti
ada doa tersembunyi
di kerak bumi, lalu
daun gugur sebagai lantunan dzikir
membawa bidadari di hadapan
mata
“puas(a)lah sebagai syukur, tafakkur, dan mengendalikan yang kuruf-kufur” langit berseru.
Surabaya, 2022
