Karya: Ahmad Ilmi Umar Faruq
Ode Api
untuk yang tak pernah kembali
Tuan tak lagi datang,
di sela-sela api dan darah, kematian dan duka,
dan Mei telah menyapa, Apakah Ia hendak pergi ke surga?
Sebelum kemarau menyambut jendela, tubuh biru menggugat cinta, setelah ibuku menyapu semuanya menuju—, tak ada angin menjemputku
Menunggu malam jatuh, kupanggil Yesus menuju kamarku. tubuh dan jiwa, leleh.
Merah duka menjelma kupu-kupu cacat
Aku ulurkan tanganku, Kau diam. Aku ulurkan kakiku, Kau diam. Aku ulurkan jiwaku– KasihKu datang bahkan ketika kau tak lagi mengenalKu
Tuan, tak lagi kutemukan rumahku: wajahmu, nafasmu, pelukmu: pekaranganku, ruang tamuku, kamar tidurku.
Koran dan televisi, berteman dengan api; hancur sebelum sempat menyapaku. Abu tubuhmu, getir zaman juga hangus, gugur
Mei telah pergi, menyisakan ribuan kupu-kupu, juga yang cacat, memeluk bunga kamboja, mengantarkannya ziarah
Tuan– api mencintai darah, rindu mencintai tubuh,
aku ini anak jadah,
tubuh merah, meratap darah, panas, Ini surga, bukan?
Putih, cahaya putih, menjelma rintik, membawa diriku menuju sofa kecil tempat kita dulu menjahit satu per satu harapan masa depan; di depan pendiang kecil yang tak pernah kunyalakan, telah kukenali suara api
: Tubuh api juga tubuhKu
Surabaya, 15 April 2026
Bara Kutukan
Kumpulan babi mendengus,
menyemburkan liur,
bekas pantat majikannya.
Berseragam rapih,
mengencangkan dasi,
menyematkan lencana pada dubur sendiri-sendiri.
Akankah kau menghamba pada kesunyian?
Sementara kami kehabisan suara,
meminum darah segar lebam kami,
mengangkat tangan menuntut demokrasi!
Biar kami akan dipukul, diculik, dibunuh,
kami adalah api,
selama setitik bara perjuangan menyala,
kami akan menjadi mimpi buruk penguasa!
Surabaya, pada suatu hari, 2025
Sebelum Padam
Kekasih,
aku tak lagi bisa menulis puisi
Sebab kata-kata
Dan yang lahir dari kata-kata
Tak lagi mahir menjawab persoalan
Manusia lebih suka mengacungkan senapan
Sebab tak perlu banyak berpikir
Untuk menekan pelatuk
Tak ada lagi kata-kata di muka bumi
Karena manusia telah membunuh harapan
Kekasih,
aku melihatmu
Tapi apa guna pertemuan
Jika tubuh hanya pandai bersenggama
Dan melahirkan anak-anak haram
Yang tak mengenal peradaban
Apa guna melanjutkan hidup
Jika puisi telah menjelma bunyi “Dor! Dor! Dor!”
Dan kulihat tubuhmu terbaring
Kekasih,
puisi telah menjelma api
Aku sekarang gemar membakar
Dan akan kupastikan seluruh kata-kata menjadi abu
Sebab makna telah tiada, sebab kau telah tiada
Surabaya, 13 Mei 2026
