Saturday, 7 November 2026
Puisi / Sastra

Reportase Api: Tiga Sajak

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/red-flame-MYjFOiVWWT8

Karya: Ahmad Ilmi Umar Faruq

Ode Api
untuk yang tak pernah kembali

Tuan tak lagi datang,
di sela-sela api dan darah, kematian dan duka,
dan Mei telah menyapa, Apakah Ia hendak pergi ke surga?

Sebelum kemarau menyambut jendela, tubuh biru menggugat cinta, setelah ibuku menyapu semuanya menuju—, tak ada angin menjemputku

Menunggu malam jatuh, kupanggil Yesus menuju kamarku. tubuh dan jiwa, leleh.
Merah duka menjelma kupu-kupu cacat

Aku ulurkan tanganku, Kau diam. Aku ulurkan kakiku, Kau diam. Aku ulurkan jiwaku– KasihKu datang bahkan ketika kau tak lagi mengenalKu

Tuan, tak lagi kutemukan rumahku: wajahmu, nafasmu, pelukmu: pekaranganku, ruang tamuku, kamar tidurku.

Koran dan televisi, berteman dengan api; hancur sebelum sempat menyapaku. Abu tubuhmu, getir zaman juga hangus, gugur

Mei telah pergi, menyisakan ribuan kupu-kupu, juga yang cacat, memeluk bunga kamboja, mengantarkannya ziarah

Tuan– api mencintai darah, rindu mencintai tubuh,
aku ini anak jadah,
tubuh merah, meratap darah, panas, Ini surga, bukan?

Putih, cahaya putih, menjelma rintik, membawa diriku menuju sofa kecil tempat kita dulu menjahit satu per satu harapan masa depan; di depan pendiang kecil yang tak pernah kunyalakan, telah kukenali suara api

: Tubuh api juga tubuhKu

Surabaya, 15 April 2026


Bara Kutukan

Kumpulan babi mendengus,
menyemburkan liur,
bekas pantat majikannya.

Berseragam rapih,
mengencangkan dasi,
menyematkan lencana pada dubur sendiri-sendiri.

Akankah kau menghamba pada kesunyian?

Sementara kami kehabisan suara,
meminum darah segar lebam kami,
mengangkat tangan menuntut demokrasi!

Biar kami akan dipukul, diculik, dibunuh,
kami adalah api,
selama setitik bara perjuangan menyala,
kami akan menjadi mimpi buruk penguasa!

Surabaya, pada suatu hari, 2025


Sebelum Padam

Kekasih,
aku tak lagi bisa menulis puisi

Sebab kata-kata
Dan yang lahir dari kata-kata
Tak lagi mahir menjawab persoalan

Manusia lebih suka mengacungkan senapan
Sebab tak perlu banyak berpikir
Untuk menekan pelatuk

Tak ada lagi kata-kata di muka bumi
Karena manusia telah membunuh harapan

Kekasih,
aku melihatmu

Tapi apa guna pertemuan
Jika tubuh hanya pandai bersenggama
Dan melahirkan anak-anak haram
Yang tak mengenal peradaban

Apa guna melanjutkan hidup
Jika puisi telah menjelma bunyi “Dor! Dor! Dor!”
Dan kulihat tubuhmu terbaring

Kekasih,
puisi telah menjelma api

Aku sekarang gemar membakar
Dan akan kupastikan seluruh kata-kata menjadi abu
Sebab makna telah tiada, sebab kau telah tiada

Surabaya, 13 Mei 2026

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *