Kickflip, grup besutan JYP Entertainment, kembali menonjolkan tema youth yang dipadukan dengan nuansa pop-rock dalam mini album terbarunya, My First Kick, yang resmi dirilis pada 6 April 2026. Sejak mini album ketiga, My First Flip, mereka semakin konsisten mengeksplorasi elemen rock hingga akhirnya memperkuat genre tersebut sebagai ciri khas mereka. Menariknya, ini adalah momen pertama sejak debut ketika semua anggota berkontribusi langsung dalam penulisan lagu, yang menjadi langkah untuk mencerminkan identitas musik mereka yang sebenarnya.
Pembuka yang Segar

Secara keseluruhan, My First Kick memberikan kesan awal yang menyenangkan dan cukup segar. Di tengah keberagaman genre musik boy group generasi kelima saat ini, KickFlip menghadirkan warna musik yang berbeda melalui pendekatan pop-rock yang playful. Tak hanya terasa playful dan hidup, album ini juga menyimpan sentuhan emosional mengenai perjalanan cinta pertama dan tantangan hidup di awal usia 20-an.
Narasi tantangan hidup tersebut tergambar nyata dalam salah satu trek pra-rilisnya, Twenty, yang sukses menghadirkan perpaduan semangat sekaligus haru dalam menangkap momen perpisahan dan langkah menuju masa depan.
Perjalanan Menuju Dewasa
My First Kick mengangkat tema pendewasaan tanpa memberikan kesan yang berat. Album ini menarasikan fase tersebut sebagai perjalanan yang dinamis—mulai dari dinamika persahabatan, romansa, hingga eksplorasi jati diri dan keberanian untuk melangkah maju.
Setiap lagu di dalamnya secara konsisten menekankan bahwa masa muda bukan semata-mata berfokus pada pencapaian akhir, tetapi juga pada tiap proses yang dilalui. Narasi yang dibangun seolah menegaskan bahwa meski dunia dewasa mungkin menakutkan, semuanya akan terasa baik-baik saja selama ada orang-orang terdekat di sisi kita.
Karakter Musikalitas
Dari segi musikalitas, Kickflip mengusung pendekatan guitar-driven pop-rock yang cukup konsisten. Dominasi gitar dan drum di hampir seluruh trek berhasil membangun energi dinamis, membuat album ini terasa hidup sekaligus kental dengan nuansa masa muda.
Meski produksinya terdengar rapi dan mudah dinikmati, konsistensi tersebut di sisi lain membuat beberapa lagu memiliki pola serupa. Namun, hal ini justru mempertegas karakter grup mereka yang kini terbentuk dengan kuat dan mudah dikenali.
Dinamika Tiap Track

Sebagai pembuka, “Eye-Poppin’” menghadirkan suasana cerah dan penuh semangat yang menceritakan keinginan untuk menarik perhatian seseorang. Chorus-nya terasa memikat dengan melodi catchy yang berpadu dengan vokal kuat, sehingga berhasil membuat nada-nadanya terus terngiang di ingatan. Tak hanya itu saja, bagian outro-nya hadir sebagai salah satu elemen paling menarik perhatian karena atmosfernya yang begitu ramai dan hidup, sekaligus memberikan puncak energi yang meledak. Vibes-nya seperti momen saat kamu berlari bebas menikmati matahari terbenam atau bermain sparklers bersama teman-teman di tepi pantai di malam hari.
Sebagai lagu b-side, “Twenty” muncul sebagai daya tarik utama yang menangkap kontras antara antusiasme dan haru memasuki usia dewasa. Strukturnya terasa sangat solid, terutama pada bagian bridge yang memberikan transisi emosional, di mana instrumentalnya melandai dan membuat nuansa energik sebelumnya seolah menguap, menyisakan vokal lembut dengan efek echoing yang bisa membuat tertegun sejenak. Keheningan ini kemudian pecah menuju chorus akhir yang kembali menggebu dengan instrumen dan vokal yang kuat. Antusiasme ini terpancar nyata lewat lirik “Picturing the future ahead, waving our hands goodbye,” yang dipadukan dengan pernyataan haru “Twenty, I’m fine” sebagai sebuah keberanian untuk melepas masa lalu dan meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja saat melangkah ke babak baru.
Saat mendengar “Stup!d”, sulit untuk tidak merasa bernostalgia ke era film remaja tahun 2000-an. Melalui lirik “Stupid, we are just like kids, that’s me, nothing can stop me,” lagu ini membawa pesan untuk bangga pada diri sendiri meski terlihat aneh di mata orang lain. Lagu ini memiliki post-chorus dan outro catchy yang saling melengkapi dengan sangat baik karena menggunakan fondasi nada yang selaras. Dengan nada yang sama, liriknya berubah menjadi lantunan “lalalala” di bagian akhir sehingga kesan fun dan kekanak-kanakannya terus mengalir tanpa terputus hingga akhir lagu.
Sementara itu, “Backward” tampil berbeda dengan menceritakan sisi ekspresi diri yang unik dan tidak biasa, yaitu dengan mengabaikan standar sosial demi melangkah dengan cara sendiri. Sebagai trek eksperimental, lagu ini memiliki progres yang sulit ditebak lewat berbagai perubahan beat yang kontras. Di bagian pre-chorus, instrumen drum dan gitar yang intens tiba-tiba berubah menjadi alunan piano yang diikuti dengan anti-drop chorus. Perpaduan elemen noise dan strukturnya yang tidak biasa membuat lagu ini menjadi tipe lagu yang membutuhkan waktu lebih untuk benar-benar bisa dinikmati sepenuhnya.
“Scroll” membawa konsep yang sangat relevan dengan kebiasaan anak muda di dunia digital, yaitu aksi memantau media sosial gebetan secara diam-diam (stalking). Bagian intro dan pre-chorus terasa kuat karena berhasil membangun nuansa fun melalui progressive beat yang energik. Namun, sayangnya, bagian chorus lagu ini terasa kurang menonjol dan mengurangi nuansa klimaks. Melodi vokalnya terdengar agak datar dan kurang menyatu dengan musik meski instrumennya tetap berjalan konstan, sehingga ledakan energi yang sudah dibangun di pre-chorus terasa tidak tersampaikan dengan maksimal.
Lagu “Roar” mengangkat tema ambisi dan kepercayaan diri melalui formula musik yang intens dan mengingatkan pada karakteristik lagu boy grup yang cukup akrab di telinga. Sejak awal, lagu ini didominasi oleh permainan rap yang agresif serta penggunaan elemen noise yang berani, memberikan kesan tangguh dan penuh tenaga. Bagian chorus-nya dibuat anti-drop, di mana energi sejenak berkurang sebelum kembali meledak pada post-chorus yang energik. Struktur ini mencapai puncaknya pada bagian bridge yang eksplosif. Aransemen instrumen yang “pecah” berhasil menutup celah dari chorus sebelumnya, sekaligus mempertegas pesan ambisius yang ingin disampaikan secara keseluruhan.
Sebagai penutup, “My Direction” hadir dengan tempo yang lebih tenang namun sarat akan pesan mendalam. Lagu ini menceritakan keraguan dan rasa takut saat memulai perjalanan di usia baru, namun tetap yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja selama melangkah bersama dengan orang tersayang. Lagu ini terasa semakin spesial karena ditulis sebagai ungkapan terima kasih yang tulus bagi WeFlip (fans KickFlip). Dengan vokal yang kuat dan ditutup oleh bagian outro acapella yang menyentuh, KickFlip menegaskan harapan mereka untuk terus berjalan beriringan bersama para penggemar di masa depan.
Penutup

Secara personal, di antara ketujuh lagu dalam album ini, “Twenty” dan “My Direction” berhasil menjadi dua trek yang paling berkesan karena kedalaman emosi yang ditawarkan. Keduanya mampu menggambarkan fase transisi menuju kedewasaan dengan cara yang terasa nyata, sehingga pendengar bisa merasakan kedekatan emosional dengan setiap lantunan vokal, lirik, dan nada yang dibawakan.
Beberapa formula musik memang terasa repetitif, namun melalui My First Kick, KickFlip berhasil membuktikan konsistensi mereka dalam menjaga energi pop-rock tetap hidup. Secara keseluruhan, mini album ini berhasil memberi gambaran jelas ke mana arah musikalitas mereka ke depannya. Meski kali ini harus tampil tanpa Amaru yang tengah hiatus, identitas musikal mereka tetap terasa utuh, sekaligus menunjukkan performa yang jauh lebih matang.
Final Rating: 8.5 /10
Penulis: Pyter Septya Wijaya
Editor: Medin
