Friday, 6 November 2026
Film / Review

Review Film: Purple Heart on Neflix

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
AAAABQvI6 k4llgiQf0GOMW2 EJv3AYTEb ICf0JpZiLyUPAFScQkfPY4BCooEsn42fkvbxsQhGa8SwntUINfEJIlLYlWtFLVq7gX8ZjguLKwVcPWcTNKOoIcSz uILxTYDBUemu0g
Sumber: netflix.com

[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 30/8/2022]

Judul Film: Purple Heart

Sutradara: Elizabeth Allen Rosenbaum

Penulis: Kyle Jarrow, Liz W. Garcia

Pemeran: Sofia Carson dan Nicholas Galitzine

Tayang di platform Netflix, “Purple Heart” berhasil masuk jajaran trending Netflix sekaligus menjadi film yang paling banyak ditonton bulan ini. “Purple Heart” sendiri mengisahkan kisah love-hate relationship dari seorang tentara dan seorang musisi jalanan. Film yang disutradarai Elizabeth Allen Rosenbaum dan dirilis pada 29 Juli 2022 ini merupakan sebuah film bergenre romance dengan cerita pilu dibalik kisahnya. Dibintangi oleh aktris sekaligus penyanyi jebolan serial Disney, Sofia Carson.

Film “Purple Heart” ini juga menyuguhkan lagu-lagu easy listening di beberapa bagian filmnya. Sedikit spoiler, suara manis Sofia Carson yang berperan sebagai Cassie, berhasil memikat hati mas-mas berbaju tentara, yaitu Luke yang diperankan oleh Nicholas Galitzine. Berperan sebagai Luke, Nicholas Galitzine berhasil memikat kaum hawa yang kagum sekaligus terpukau dengan penampilan serta kemampuan akting dari lawan main Camila Cabello di film “Cinderella” ini.

Seperti yang telah dikatakan di atas, selain menceritakan tentang kisah love-hate relationship dari Luke dan Cassie, film ini juga menyuguhkan kisah hidup yang mampu membuat penontonnya terkesan, baik tentang perjalanan Cassie melawan penyakit diabetes akut yang membuatnya harus menyuntikkan insulin selama beberapa menit sembari berjuang mencari serpihan dollar di cafe tempatnya bekerja, maupun tentang perjuangan Luke sebagai mantan pemakai narkoba yang berhasil menjadi Marinir. Di film ini kita bisa tau bagaimana perjuangan tentara Amerika dalam medan tempur. Di satu sisi, hal ini sedikit menjadi red flag karena mengandung aksi propaganda antara Amerika dengan negara-negara Timur Tengah. Namun, kembali lagi pada genre film “Purple Heart” yang tidak berfokus terhadap propaganda tersebut.

Meskipun begitu, banyak penonton yang sedikit kecewa dengan unsur propaganda, rasisme, dan anti-feminis yang ditayangkan. Melalui sudut pandang alur, plot, jalan ceritanya, film ini cocok ditonton ketika sedang jenuh di tengah kesibukan, karena jalan ceritanya yang ringan dan menggemaskan, walaupun di beberapa menit, kamu mungkin akan merasa kesal dengan salah satu tokoh di dalamnya. Banyak kaum hawa yang menyebutkan bahwa tokoh Luke dalam film ini merupakan kaum ‘Halo Dek’ yang mereka dambakan, karena sikap gentle dan pastinya karena penampilannya yang rupawan.

Penulis: Irmazn

Editor: Rohmatin Gita Cahyani

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *