[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 19/6/2022]
Judul Film : Turah.
Jenis Film : Drama.
Sutradara : Wicaksono Wisnu Legowo.
Produser : Ifa Isfansyah.
Penulis : Wicaksono Wisnu Legowo.
Pemeran : Ubaidillah, Slamet Ambari, Yono Daryono, Rudi Iteng, Firman Hadi, Narti Diono, dan Bontot Sukandar.
Tanggal rilis : 6 September 2017.
Film Turah mengisahkan tentang ketidakberdayaan masyarakat kelas bawah yang terbelenggu dalam kemiskinan. Banyak langkah percobaan pemberontakan yang telah mereka lakukan, akan tetapi semua usaha tersebut tetap berakhir dengan kekalahan. Selanjutnya, film ini sukses tampil sebagai perwakilan Indonesia menjadi nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik di ajang penghargaan piala Oscar 2018.
Singkatnya, film Turah membahas tentang kesenjangan sosial di Kampung Tirang. Warga Kampung Tirang telah banyak bekerja pada Juragan Darso selama bertahun-tahun tetapi tak menunjukkan peningkatan ekonomi yang signifikan. Sedangkan Juragan Darso dan tangan kanannya, Pakel, memiliki kekayaannya yang bertambah melimpah. Kondisi tersebut membuat tokoh Jadag merasa geram dan sering kali melakukan protes secara frontal. Akan tetapi, doktrin Juragan Darso dan Pakel kepada warga Kampung Tirang cukup menghentikan mereka dan menentang tindakan Jadag. Turah sebagai tokoh utama dari film ini merupakan presentasi dari mayoritas warga yang menghuni Kampung Tirang. Seseorang yang pasrah, tunduk, dan patuh atas perintah Juragan Darso. Alih-alih Turah sebagai tokoh utama yang penuh dengan konflik, ia malah terlihat sebagai sosok yang main aman. Hal tersebut jauh berbeda dengan tokoh Jadag yang selalu memancing hadirnya tiap konflik. Pasalnya, tokoh Jadag yang selalu memiliki sikap bertolak belakang dari tokoh lainnya. Pada sisi heroiknya, Jadag mampu menggambarkan bentuk perjuangan rakyat miskin untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, berbeda dari pahlawan yang sering kali digambarkan sebagai sosok yang idealis dan sempurna, sosok Jadag memiliki sisi gelap tersendiri. Jiwa pemberontak Jadag masih tak terlepas dari kepentingan dirinya. Ia juga membenarkan perbuatannya dalam memilih mabuk untuk menghilangkan stres dan melakukan perselingkuhan karena terluka atas penolakan dari istrinya dalam memenuhi hasratnya.
Aksi-aksi yang Jadag lakukan merupakan representasi dari kemampuan kaum tertinggal dalam bertindak. Berbeda dengan Pakel sebagai sarjana manipulatif, pergerakan sosok Jadag yang penuh dengan spontanitas ini sangat mudah ditebak. Hal tersebutlah yang dimanfaatkan oleh para penguasa dalam mencari celah untuk menghilangkan para pemberontak. Meskipun seorang Jadag tidak merasa gentar dalam melawan Darso dan Pakel, tetapi tetap seseorang yang memiliki kekuasaan lebih tinggi yang memenangkannya.
Tidak ada sajian yang berlebihan dalam hal pencahayaan dan audio dalam film ini. Layaknya film dokumenter, suasana yang terbangun menjadi lebih nyata. Sehingga, para penonton bisa lebih menyorot penokohan yang diperankan oleh aktor-aktor teater tersebut. Untuk keseluruhannya, film ini menjadi tontonan menarik dikala ingin mendapat perspektif baru terkait permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam dunia kemiskinan.
Penulis: Hanna Azizah
Editor: Shofiyah Sajidah
