Aksi solidaritas darurat kekerasan aparat pada 29 Agustus 2025 yang berakhir pada kerusuhan massal berimbas pada dibatalkannya pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tingkat jurusan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR). Pihak fakultas berdalih hal ini dilakukan demi menjaga dan melindungi mahasiswa, namun niat tersebut memiliki dampak signifikan pada kegiatan yang mayoritas dilaksanakan pada 30 & 31 Agustus 2025 ini. Lantas, apa dampak yang begitu mengganggu dan mengapa hal demikian bisa terjadi?
Panitia PKKMB tingkat jurusan dipaksa mengambil keputusan mendadak dikarenakan informasi dari fakultas yang dinilai datang terlambat. Bagaimana tidak, informasi larangan pelaksanaan kegiatan pada tanggal 30 Agustus baru disampaikan sekitar pukul 05.30 di hari yang sama. Hal ini diberitahukan oleh Wakil Dekan I melalui Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB dalam grup WhatsApp “Sinergi Humaniora” – grup yang beranggotakan koordinator acara tiap jurusan. Panitia yang sebelumnya sudah siap tampil kini harus mempertimbangkan beberapa opsi perombakkan, antara lain melakukan penyesuaian timeline, mengubah konsep acara, hingga pembatalan kegiatan pada tanggal tersebut.
Esoknya pada tanggal 31 Agustus 2025, terbit informasi resmi dari pihak Rektorat UNAIR terkait pemberlakuan lockdown bagi seluruh aktivitas kampus pada tanggal 1–4 September 2025. Uniknya pihak FIB tetap melarang pelaksanaan PKKMB tingkat jurusan di area fakultas hingga tanggal 7 September 2025. Mendapati pernyataan tersebut, beberapa jurusan harus melakukan penyesuaian kembali.
PKKMB jurusan Bahasa & Sastra Indonesia – SEMESTA yang semula hendak dilakukan pada tanggal 6 & 7 Agustus kini harus dibatalkan. Annisa selaku Ketua Pelaksana SEMESTA 2025 menilai jika kebijakan itu tidak masuk akal dan tidak berdasar. Oleh karena itu, ia harus menjadwal ulang sekaligus memadatkan timeline pelaksanaan SEMESTA pada tanggal 13 & 14 September mengingat jika pelaksanaan PKKMB tingkat jurusan harus selesai September ini.
Berbeda dengan SEMESTA, PKKMB jurusan Bahasa & Sastra Jepang – NAKAYOSHI melakukan kegiatan secara daring dengan diiringi rasa kecewa. “Di surat resmi UNAIR hanya tertulis sampai tanggal 4, tapi fakultas dan jurusan tetap melarang. Padahal melihat aksi pada hari Rabu (tanggal 3) telah reda. Itu pun kami terpaksa melakukannya secara online karena kami mendapatkan surat resmi pada hari Rabu,” Ujar Athallah selaku Ketua Pelaksana NAKAYOSHI.
Hal serupa juga dilakukan oleh DATE – PKKMB jurusan Bahasa & Sastra Inggris yang pelaksanaannya kini dilakukan secara daring. “Kami langsung mempersiapkan plan untuk agenda online yang tetap mengutamakan esensi dan keseruannya. Setelah semua plan tersebut siap, kami membicarakan langsung bersama steering committee, penanggung jawab DATE 2K25, Badan Pengurus Harian English Department Students’ Association (BPH EDSA), dan pembina BPH EDSA untuk memberitahukan perubahan kami yang akan dilakukan secara online”. Ujar Sayyidah Syifa Sofia selaku ketua pelaksana DATE.
Sementara itu PKKMB jurusan Ilmu Sejarah – RAHWANA sudah bertindak cepat sejak aroma kerusuhan massal mulai terendus. Kerusuhan di beberapa titik di Surabaya tanggal 30 Agustus 2025 lalu membuat panitia RAHWANA memberi pesertanya tugas review film yang relevan dengan kondisi negara saat itu, dengan ini mahasiswa baru diharapkan tidak terjun dalam aksi lanjutan. Ada pula pihak panitia sudah mempersiapkan rencana cadangan untuk melakukan rangkaian kegiatan RAHWANA tanggal 6 September di Gedung Kuliah Bersama Ex. Farmasi Kampus B UNAIR. Rencana cadangan yang sudah dicanangkan jauh sebelum pengumuman pelarangan oleh FIB ini diizinkan oleh pihak kampus karena peraturan peminjaman gedung tersebut mengikuti aturan dari universitas.
Dampak pelarangan pelaksanaan PKKMB tingkat jurusan di area fakultas juga dirasakan oleh peserta. Jovita, peserta SEMESTA, bertanya-tanya jika PKKMB tingkat jurusan akan selesai sebelum Ujian Tengah Semester (UTS). “Kan kalau osjur (ospek jurusan) mundur nanti mepet sama UTS dan banyak tugas, sedangkan osjur kita baru dimulai dan banyak tugas, sepertinya kita akan kepontang-panting ngerjain tugas osjur di Hari-H.” Jovita juga menyebutkan jika pembatalan secara mendadak ini menyebabkan beberapa agenda pribadi milik teman-temannya dibatalkan.
Lain halnya dengan Ganis Dita Violina – peserta NAKAYOSHI yang merasa kecewa namun masih menaruh harapan. “Untuk informasi dari panitia jujur cukup mendadak tapi saya selalu merasa bahwa itu bukan sepenuhnya salah mereka. Informasi penundaan ospek jurusan kami sudah jelas. Saya rasa hanya sedikit info saja yang diberikan sangat mendadak tetapi itu tidak mempengaruhi rundown ospek jurusan saya.”
Belajar dari kejadian ini, muncul harapan dari panitia dan peserta bagi pihak fakultas untuk kedepannya. Panitia penyelenggara PKKMB tingkat jurusan berharap kepada jajaran dekanat FIB untuk tidak memberikan informasi secara mendadak. Di lain sisi peserta berharap untuk bisa segera mengetahui kepastian tanggal pelaksanaan PKKMB tingkat jurusan supaya tidak perlu lagi mereka menebak-nebak.
Penulis dan Reporter: Yongki, Nazila, Dinda, Izzad, Chesta
Penyunting: Samuel
