Saturday, 7 November 2026
Buku / Review

Sebuah Tafsir atas Ruang Rawan: Resensi Jakarta Keras karya Jerome Tadie

Oleh : : - Waktu Baca 7 menit
Sumber: Dokume pribadi - Deo

Sebermula

Kota bukan sekadar lingkungan yang sesak dengan gedung dan kendaraan yang menderu tiada henti siang dan malam. Lebih dari itu, kota merupakan habitat yang tersusun atas lapisan sosial dan kultural—panggung kehidupan bagi manusia urban dengan segala kepentingannya. Aneka kepentingan saling bergesekan dalam sebuah kota; kerap melibatkan kekerasan dan penindasan. Kondisi tersebut akhirnya mewarnai setiap panorama perkotaan, menjelma sebagai citra sekaligus konstruksi dalam dimensi fenomenologis kita. Dari premis inilah karya Jerome Tadie lahir.

Hasil kerja intelektual Tadie ditakarirkan secara menggugah: Jakarta Keras: Ruang Rawan Metropolitan, 1965–1998. Judulnya saja sudah memberi petunjuk persoalan yang akan dibahas dalam 366 halaman. Buku ini berusaha menganalisis bagaimana kekerasan dan berbagai turunannya menjadi bagian inheren dari keseharian sebuah kota. Dengan narasi sejarah dan data etnografi yang melimpah, Tadie merumuskan konsep atas fenomena yang ia baca: “ruang kekerasan”, dengan Jakarta sebagai pusat analisis. Ia menghabiskan beberapa tahun di ibu kota, mengorbankan waktu dan tenaga, hingga karya ini diterbitkan pertama kali oleh Masup Jakarta pada 2009.

Memahami Ruang Rawan

Ruang (space) merupakan diskursus menarik dalam kajian sosiologi dan antropologi perkotaan. Pemikir seperti Lewis Mumford, Henri Lefebvre, dan Edward Soja sejak lama menjadikan ruang kota sebagai objek kajian. Berbeda dari pandangan lama yang hanya melihat kota sebagai place (tempat), konsep ruang menghadirkan cakrawala lebih luas dalam melihat fenomena urban. Kerangka konseptual inilah yang menjadi basis teoritis Tadie.

Tadie melihat dengan cermat bahwa kekerasan tidak hanya selesai sampai pada sebuah peristiwa semata, tetapi meresap dan merasuk ke dalam imaji, citra serta identitas suatu kota beserta isinya. Jadi kekerasan dalam konteks ruang urban tidak lagi sekadar kejadian (event) tetapi sebuah fenomena yang teramat kompleks. Bahkan dalam suatu tesis, kekerasan turut membentuk ruang kota itu sendiri. Hubungan saling mutual antara kota dan kekerasan melahirkan suatu struktur kekuasaan spasial yang rumit, tetapi pengaruhnya atas aspek sosial dan budaya masyarakat begitu signifikan. Hal tersebut berimbas terhadap peta teritorial kota yang lepas dari pemetaan otoritas legal. 

Lantas bagaimana Tadie mengendus serta melacak struktur tak kasat mata tersebut? Agaknya metode etnografi adalah teknik yang sangat tepat karena kemampuannya dalam menjangkau data-data yang lepas dalam catatan-catatan otoritas kota. Etnografi mampu memberikan ruang bagi rekaman fenomenologis, baik dari individu maupun kelompok yang terlibat serta terdampak oleh keberadaan struktur kekerasan dalam kota. Selain itu, etnografi juga membantu Tadie untuk mengakses berbagai pihak yang mewakili berbagai sudut pandang yang bermacam-macam, membuat temuannya begitu kaya dan beragam.

Jakarta Sebagai Ruang Kekerasan

Sebagai ibu kota, Jakarta menjadi pusat politik sekaligus pusat ekonomi negara. Selama berabad-abad, baik dalam kekuasaan kolonial maupun pascakolonial, selalu mengabaikan suara-suara masyarakat marjinal. Ibu kota menjelma menjadi sebuah kawasan yang indah dan penuh dengan kemilau gedung-gedung. Namun, ibu kota gagal untuk menciptakan ruang hidup yang layak bagi warganya. Pemandangan yang kontras antara yang kaya dan yang miskin begitu amat jelas. Dari kondisi seperti itulah segudang fenomena lahir di ibu kota, salah satunya adalah kekerasan. Kondisi demikian kian kentara saat Orde Baru mulai berkuasa. Kebijakan sentralistik menstimulasi urbanisasi; Jakarta menjadi destinasi bagi mereka yang ingin mengubah nasibnya. Populasi meluap tanpa diiringi pembangunan yang merata. Lambat laun, persaingan ruang hidup pun muncul mewarnai keseharian masyarakat kota.

Tadie melacak beberapa titik aglomerasi seperti pasar, pusat hiburan, terminal, pemukiman, yang dikenal menjadi biang kekerasan di Jakarta. Dari sana Tadie mengungkapkan jika tindak kekerasan yang umum terjadi merupakan ekspresi dari suatu struktur teritorial yang diaktori oleh berbagai pihak. Mereka bekerja secara predatoris; menjual rasa aman berupa setoran wilayah kepada penduduk dan menciptakan kekerasan bilamana setoran tidak terpenuhi. Itulah salah satu modus yang kerap ditemui di kawasan komersial seperti di pasar. Biasanya dilakukan oleh mereka yang dikenal sebagai preman atau jago. 

Lebih lanjut, Tadie mengungkapkan bila struktur teritorial itu tidaklah terisolasi melainkan suatu jaringan kekuasaan yang teramat luas, terhubung dengan aktor kekuasaan di tataran legal. Hal itulah yang membuat fenomena kekerasan predatoris di tingkat lokal begitu kokoh dan sulit dihancurkan. Mengapa demikian? Menurut Tadie, kondisi tersebut memang dirawat oleh beberapa pihak (baca: elit) untuk dieksploitasi ketika diperlukan. Lapisan inilah yang menjadi bagian dari ekosistem perkotaan Jakarta dan menjadi basis material dari berbagai aksi kekerasan yang lebih besar dan mencakup isu yang lebih luas.

Para Aktor Kekerasan

Jakarta merepresentasikan karakteristik kekerasan yang menarik. Max Weber menegaskan jika kekerasan idealnya merupakan monopoli dari negara. Artinya segala bentuk koersif bahkan ketakutan dan rasa aman menjadi kuasa dari negara. Namun, beberapa kasus menunjukkan jika negara bukan aktor kekerasan tunggal. Ia berbagi kepentingan dengan aktor-aktor kekerasan non-negara. Hal itulah yang ditemukan oleh Tadie. 

Kala seluruh negeri dicengkeram oleh otoritarianisme junta militer Orde Baru, segala bentuk ancaman sekecil apapun dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas sehingga aparatur negara seperti militer memegang peranan sentral dalam kehidupan sosial dan politik. Berangkat dari ketakutan atas destabilitas, sebuah struktur keamanan berbasis teritorial muncul, membagi satuan komando militer menjadi sektor-sektor berdasarkan wilayah administratif, mulai dari tingkat distrik, rayon, hingga desa. Struktur teritorial ini menurut Tadie memfasilitasi elit militer dalam mengeksploitasi kekerasan di perkotaan. 

Bahkan polisi yang seharusnya membekali diri dengan pengetahuan humanisme turut dimiliterisasi. Hal itu menimbulkan masalah yang terus menjangkiti tubuh kepolisian hingga hari ini. Elit militer serta polisi saling berbagi kepentingan serta saling bernegosiasi dengan aktor kekerasan non-negara seperti preman dan kaum jago di ibu kota. Hubungan koeksistensial antara negara yang diwakilkan oleh militer dan polisi dengan aktor kekerasan non-negara yang diwakilkan oleh preman dan organ kekerasan lainnya yang menurut Tadie membentuk wajah kekerasan di ibu kota.

Kekerasan di Jakarta akhirnya menjelma menjadi suatu yang begitu besar. Tentakelnya menyasar hampir setiap sudut kota. Kekerasan menjadi bahasa beberapa pihak yang kepentingannya terdistorsi oleh keterbatasan kota. Para pelajar, penduduk, hingga sopir bus turut menggunakan bahasa ini ketika kepentingan mereka terganggu. Hal tersebut menimbulkan rasa takut, kecemasan, dan kegelisahan. Media pers yang haus sensasi membingkai fenomena di ibu kota dengan kemasan yang begitu hiperbolik. Menciptakan citra kerasnya ibu kota ke pada masyarakat luar.

Sampai di Mana Ruang Kekerasan itu?

Ruang kekerasan akhirnya tidak berhenti dalam wujud fisiknya, tetapi juga turut menjelma sebagai entitas imajinatif yang terus direproduksi dan diwariskan. Citra Jakarta sebagai kota yang penuh dengan masalah menjadi pengetahuan umum, baik bagi penduduk Jakarta maupun penduduk di luar Jakarta. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah konsep Ruang Kekerasan yang ditemui oleh Tadie juga turut berlaku di kota lain selain Jakarta? Seperti yang diungkapkan Tadie, fenomena kekerasan sangat bergantung dengan kondisi ruang dan waktu di mana ia hidup. Artinya, perlu adanya penelitian yang lebih mendalam terhadap konsep ruang kekerasan.  

Karya Tadie ini agaknya menjadi kelanjutan dari beberapa karya yang sama-sama memusatkan diri kepada fenomena kekerasan di Indonesia, seperti karya Robert Cribb seputar kaum jago Jakarta semasa periode revolusi. Kebaruan Tadie yang mengkombinasikan berbagai teori sosial berhasil memperkaya khazanah diskusi dalam tema sosial dan sejarah, terutama tentang perkotaan. Konsep Ruang Kekerasan berhasil menghadirkan pemahaman baru kepada mereka yang menaruh ketertarikan terhadap isu-isu sosial perkotaan.

Penulis: Deo

Editor: Syifa

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *