[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 7/5/2022]
Apa jadinya jika manusia hanya bisa dihitung dalam teritorik angka berupa statistika dan harga?Sedangkan nilai moral, etika, dan kemanusiaan sudah digilas dengan angka yang transenden. Ini adalah suatu kenyataan yang dihadapi oleh kita secara tak sadar sebagai seorang akademisi. Hal ini tentu perlu dipertanyakan. Mengapa menjadi seorang sarjana diukur dengan satuan angka? Terlebih jika ingin mendaftar menjadi sarjana harus melewati administrasi yang sulit dan rumit. Padahal esensi dari sekolah atau akademi adalah berkumpul, berdialektika kritis, dan mengabdikan diri kepada tanah air, rakyat dan kemanusiaan. Bukankah esensi sekolah atau akademi yang sudah dibentuk pada masa Yunani Kuno tersebut seharusnya menjadi ekspektasi kita? Ataukah kita sudah mengalami degradasi impian seiring dengan kebutuhan yang dibentuk oleh sistem – maksudnya, kita bersekolah atau berkuliah hanya untuk Asal Orang Tua Senang atau hanya untuk mengejar predikat-predikat saja?
Tentu hal ini akan menimbulkan suatu masalah. Mulai dari survei, metodologi, administrasi, peringkat, dan seluruh atribut-nya membuat kita melupakan isi dari suatu penelitian atau dialektika kritis yang ingin kita buat sesuai dengan preferensi kita sendiri. Inilah yang menjadi problematika bagi beberapa orang, termasuk saya sendiri.
Ya, saya kira dahulu waktu masuk ke kampus ini akan sangat menyenangkan dan ekspresif karena peringkatnya yang tidak main-main. Ternyata sama saja. Bak nomor-nomor yang terpasang di judi togel, ternyata kampus juga suka buat uang orang tua habis, dan kita tak dapat apa-apa. Ilusi angka. Brilian.
Ekosistem pendidikan saat ini kelihatannya berbeda dengan ekosistem pendidikan pada masa Yunani Kuno, atau yang tidak terlalu jauh yaitu ekosistem pendidikan (kiri) Indonesia pada pertengahan 50’ sampai 60’-an. Bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan, namun hanya ingin mengajak merefleksikan ke belakang saja.
Dalam sebuah buku jurnalistik berjudul “Sekolah itu Candu” karya empunya penerbit INSISTPress, Roem Topatimasang, menjelaskan bahwa sekolah berasal dari kata “skolae” berarti “waktu luang”, yang mana asal-usul dari sekolah itu sebenarnya seperti anak-anak yang melingkar dan berdiskusi riang. Dari sini kita bisa melihat semisal apa yang telah dilakukan oleh Socrates ataupun Plato dengan akademiknya. Namun seiring berjalannya waktu, sekolah menjadi semakin kompleks, baik itu sebagai suatu institusi pendidikan ataupun lembaga pendisiplinan.
Pada zaman Yunani Kuno, sekolah kelihatannya tidak ada beban (walaupun ekspektasi ini tidak dapat diwujudkan karena adanya spesialisasi kerja yang membutuhkan pendidikan dan lain-lain). Hal yang berbeda namun memiliki unsur yang menarik untuk dibahas sebagai kritik untuk pendidikan hari ini adalah pendidikan (kiri) di Indonesia pada pertengahan 50’ sampai 60’an. Ini yang mungkin bisa terlihat secara nyata. Maksudnya? Di saat masih ada Partai Komunis Indonesia, sistem pendidikan dianggap lebih maju. Tak kenal almamater, hingga latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai kalangan.
Kampus – kampus merah buatan Partai Komunis Indonesia menjadi yang paling maju dan modern pada era tersebut. Seperti apa yang dikatakan oleh Ruth T. Mcvey dalam kenangannya yang terangkum dalam buku kecilnya yang berjudul “Mengajarkan Modernitas: PKI sebagai Institusi Pendidikan” yang diterbitkan oleh Indoprogress, ia mengenang: “PERSIS setelah peristiwa kup 1 Oktober 1965, ketika massa rakyat diizinkan mengekspresikan kemarahan mereka dengan membakar kantor pusat Partai Komunis Indonesia (PKI).
Hal pertama yang dilakukan oleh militer adalah merampas seluruh arsip partai dengan hati-hati. Berbagai akademisi di Indonesia kemudian dipanggil untuk menganalisis berbagai dokumen ini, khususnya rekaman-rekaman penelitian tentang berbagai kondisi desa yang menjadi basis dukungan utama PKI di Jawa.
Salah satu seorang sarjana berkata pada saya tentang keterkejutannya soal tingkat kecanggihan survei-survei yang dikirim kader-kader pedesaan PKI kepada partai. Tidak hanya seorang sarjana yang berkata kepada McVey saja yang terkejut, saya juga. Bagaimana tidak? Beberapa kali saya menemukan arsip PKI yang bertebaran di media sosial, ataupun selebaran koran Harian Rakjat yang saya dapat dari toko online dan pemberian teman saya.
Tulisan dari koresponden pedesaan memiliki bahasa yang benar-benar bagus untuk setingkat akademisi, padahal saya percaya bahwa mereka hanyalah petani yang tergabung di kinerja organisasi sayap (underbouw) BTI. Terlebih kita tahu adanya istilah Akademi pertanian Ergom – nama akademi tersebut diambil dari nama orang yang menjadi martir revolusi komunis Indonesia 1926. Kekuatan apakah ini? Saya masih belum yakin kebenarannya, namun yang jelas, PKI benar-benar mempunyai keprihatinan yang penuh dalam pendidikan masyarakat tingkat ke bawah tanpa berpikir peringkat berapa dalam skala internasional ataupun berapa harga yang harus dibayarkan oleh mereka – tentunya intensifikasi pendidikan ini juga untuk menggaet massa.
Hal ini dapat terlihat di TK Melati bentukan Gerwani. TK Melati tidak hanya belajar membaca dan menghitung, namun juga memperhatikan kesehatan peserta didiknya secara intens dan ini dilakukan secara sukarela oleh kader Gerwani. Sungguh militan. Kejadian ini sangat langka, dan akhirnya banyak ibu-ibu pedesaan pun ikut Gerwani secara manasuka sebagai bentuk terima kasih mereka – karena memang cuma itu yang bisa dibuat untuk balas budi.
Itu hanya sebagian saja yang dapat diceritakan, belum lagi para seniman kiri yang turba berbulan-bulan untuk menuruti kemauan rakyat ataupun Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) yang memberikan keilmuannya kepada rakyat yang hanya sebatas mencangkul dan bercocok tanam saja sebagai buruh. INILAH PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA KEMANUSIAAN.
Pendidikan hari ini tidak lagi dapat meniru apa yang telah disebutkan di atas, jika orientasinya tidak diubah. Yang awalnya hanya berbicara tentang peringkat, maka sekarang waktunya berbicara mengenai kualitas dan pengabdiannya pada kemanusiaan. Kita bukanlah manusia yang ditujukan untuk angkuh terhadap masyarakat yang melahirkan kita. Jika kampus atau sekolah masih saja terdapat pemeringkatan, mengapa sekolah tidak dihancurkan saja dengan Molotov atau C-4? Karena kita sebagai siswa atau mahasiswa bukanlah data statistik. Seperti apa yang dikatakan Tan Malaka, Pendidikan itu berguna untuk mengasah hati dan pikiran, bukan berlagak tidak peka seperti robot.
Penulis: Alfian Widi Santoso
