Permasalahan sampah dan kebersihan sungai di Surabaya, termasuk daerah Srikana, belum juga usai. Sungai yang keruh akibat sampah ditambah keberadaan lahan pembuangan sementara menyebabkan pencemaran air dan udara. Keadaan ini mengganggu warga serta pengguna jalan.
“Setiap lewat pinggir situ, sebal soalnya sungainya bau pol. Sekarang, enggak pernah lewat sampah-sampah yang dekatnya Fakultas Vokasi itu juga soalnya enggak tahan sama baunya. Meskipun pakai masker, masih aja bau pol. Cuma pernah lewat sekali, kapok,” ungkap salah satu mahasiswa indekos di daerah Gubeng Kertajaya melalui wawancara (21/5/23).
“Suka tiba-tiba bau menyengat, apalagi kalau habis hujan gitu. Bau sampahnya sampai masuk kos. Enggak tahu, itu baunya dari sungai atau sampah di LPS Srikana, ganggu pol, enggak nyaman,” imbuhnya.
Aliran sungai sepanjang Jalan Srikana berwarna abu-abu. Terdapat endapan sampah plastik di pinggir sungai yang berpotensi mengakibatkan luapan ketika hujan. Permasalahan ini telah mendapat antisipasi dari Pemkot Surabaya melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) dengan pengerukan endapan sungai pada Januari 2022. Meskipun demikian, penambahan jumlah sampah di Sungai Srikana yang terus berlanjut dapat menyebabkan permasalahan lingkungan berkepanjangan. “Kalau hujan deras, hampir meluap. Di Gubeng Kertajaya 9, sering banjir sampai di atas mata kaki,” ujar Nurul, pengguna jalan.
Adapun problem lahan pembuangan sementara yang menyebabkan gangguan bau menyengat, salah satunya diduga disebabkan oleh penataan lahan dan kawasan yang sering becek. Upaya pengurangan bau yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah ini dikabarkan bakal dilakukan oleh Pemkot Surabaya seiring dengan penataan ulang PKL Srikana yang dimulai sejak Maret 2023. Penataan lahan pembuangan sementara dan gerobak pengangkut sampah diupayakan untuk mengurangi bau yang terlalu menyengat.
“Tempat pembuangan sampah di seberangnya gedung Vokasi katanya mau ditata ulang. Harapannya, ya, semoga masalah perbauan ini cepat selesai, penataannya juga. Setidaknya, biar gak bau-bau banget gitu, lah,” kata salah satu pejalan kaki yang tidak ingin diketahui identitasnya.
Reporter: Hurun’in Kamila
