Thursday, 5 November 2026
Seputar kampus

Timbulkan Sensasi Kesetrum, Apakah Lapangan Rumput Kampus B Aman?

Oleh : : - Waktu Baca 6 menit
Area Taman Perpustakaan Kampus B Universitas Airlangga. (LPM SITUS/Meta)

Subdit K2LP Universitas Airlangga mengonfirmasi adanya aliran listrik statis yang menimbulkan ketidaknyamanan di open space area depan Perpustakaan Pusat Kampus B pada Kamis (5/8).

Beberapa mahasiswa di Kampus B baru-baru ini mengalami kejutan listrik di beberapa titik taman rumput sintetis depan perpustakaan. Insiden ini mulai terlapor dua pekan belakangan sehingga mengundang perhatian serius dari pihak pengelola lingkungan kampus usai adanya laporan dari LPM SITUS.

Menurut laporan, mahasiswa mengeluhkan sensasi tersetrum saat menyentuh tiang titik kumpul di depan perpustakaan Kampus B. Kejadian tersebut diketahui setelah salah satu mahasiswa menyentuh tiang tersebut dan merasakan arus listrik. Meskipun awalnya hanya terkejut, rasa nyeri muncul kemudian.

Kejadian lain juga dialami mahasiswa di beberapa titik berikut:

  1. Adanya efek kejut saat mahasiswa melakukan tos usai beraktivitas di area rumput sintetis depan perpustakaan B.
  2. Terdapat rasa nyetrum saat mahasiswa memegang bangku beton di bawah pohon depan perpustakaan B.
  3. Mahasiswa mengalami sensasi tersetrum saat memegang electric bike and mobile device charger solar panel di depan perpustakaan B.
  4. Mahasiswa merasa tersetrum saat memegang rumput sintetis dan gawai saat berada di area depan perpustakaan B.
  5. Sensasi tersetrum dirasakan mahasiswa baru di area lapangan rumput FISIP.

Pihak K2LP mengindikasi bahwa masalah tersebut kemungkinan disebabkan oleh listrik statis yang timbul dari gesekan rumput sintetis yang sering dilalui pejalan kaki. Ada kemungkinan pula disebabkan suhu yang tinggi alias panas. Hal ini juga terkonfirmasi ketika Fuad, selaku bagian dari Subdit K2LP menyatakan, “Terus saya juga baca juga, pernah, itu karena memang efek panas juga mempengaruhi. Panas matahari ya terus juga sering dilalui pejalan kaki itu timbul gesekan.”

Namun, nyatanya pada area lapangan rumput FISIP yang cenderung teduh juga dapat menimbulkan sensasi tersetrum. Menurut mahasiswa baru dari FISIP, “iya, sama duduk di area lampu juga biasanya bisa, kayak misal duduk deket lampu terus kita megang rumputnya itu bisa ada efek tersetrum.”

Dilansir dari Protoolreviews.com, “Heat retention can be a significant con with artificial turf. Heat retention is even more problematic in southern climates, and artificial lawns can often become too hot to walk or play on” (Retensi panas bisa menjadi masalah serius pada rumput sintetis. Retensi panas bahkan lebih parah di iklim selatan, dan rumput sintetis sering kali menjadi terlalu panas untuk berjalan atau bermain). Hal tersebut membuktikan bahwa rumput sintetis dapat menyebabkan retensi panas yang cukup mengkhawatirkan. Didukung pula oleh sebuah studi yang dilakukan di Universitas Brigham Young, bahwa suhu permukaan rumput sintetis lebih tinggi daripada aspal dan rumput alami.

Kejadian serupa juga terlaporkan dua bulan lalu: adanya efek setrum di area taman depan perpustakaan kampus B, terutama pada keran air. Subdit K2LP mengamini kejadian seperti ini mengganggu pengguna yang beraktivitas di tempat tersebut.

Walaupun terkonfirmasi bahwa pihak Subdit K2LP menduga adanya persoalan listrik statis tersebut, nyatanya, hingga kini mereka belum selesai dalam menangani kasus tersetrum di area lapangan rumput sintetis.“Ya opo ya cara, cara mengatasinya yo belum, belum bisa secara pasti si. Karena munculnya dan supaya tidak muncul itu loh belum, belum, belum tahu saya caranya itu,” ujar pihak Subdit K2LP.

Upaya yang dilakukan usai laporan dua bulan lalu adalah pemberian pasir di bawah rumput sintetis supaya langsung menyentuh tanah dan netral. Upaya serupa direncanakan untuk dilakukan pada pengecekan mendatang usai laporan terbaru.

“Lah mungkin itu nanti ya saya anu aja, mungkin untuk meminimalisir ya, eh pemberian pasir-pasir itu ya supaya bisa grounding tadi. Tak perbanyak, ya, ya semoga ae nggak, nggak, nggak bertambah lagi.”

Berangkat dari persoalan tersebut, artinya pengecekan memang belum dilakukan secara berkala, melainkan menunggu adanya laporan atau pengaduan yang masuk. 

Persoalan penggunaan rumput sintetis pun turut dipertanyakan esensinya lebih lanjut, Fuad mengatakan bahwa akibat rumput sintetis dengan bahan plastik dan bawah rumput sintetis yang juga berbahan plastik akan menimbulkan gesekan yang menghasilkan ion dan berakhir menumpuk di satu area. Lantas, apakah aspek persoalan kemungkinan adanya listrik statis ini luput atau bahkan tidak diperhitungkan sebelumnya?

Dilansir dari Unair News, “Tantangan untuk menurunkan emisi karbon dengan menciptakan ruang terbuka hijau yang indah dan berkelanjutan seringkali digalakkan. Namun, perawatan dan pemeliharaan rumput alami seringkali membutuhkan sumber daya yang besar, termasuk air dan tenaga kerja. Hal ini mendorong Universitas Airlangga mengadopsi inovasi dengan menggunakan rumput sintetis di open space area untuk solusi yang lebih efisien, dan ekologis.”

Adanya pernyataan menurunkan emisi karbon dengan adanya ruang terbuka hijau tersebut kemudian dapat dikatakan berhasil apabila “hijau” yang dilaksanakan kemudian  bukan dari hijau alaminya sebuah daun?

Dengan adanya wacana “menurunkan emisi karbon” di atas yang berparameter “kampus hijau”, apakah sah  jika sematan “hijau” tersebut bersumber dari hijaunya rumput “artifisial” alih-alih rumput alami–dan fatalnya lagi menimbulkan ketidaknyamanan orang-orang?

Menanggapi persoalan adanya listrik statis tersebut, Cakim berpesan, “Coba hindari titik-titik yang langsung bersentuhan dengan bahan atau logam, titik kumpul, dan lain sebagainya. Kedua, laporkan ke kami juga temen-temen Sarpras untuk bisa dilakukan pengecekan.”

Reporter: Meta Ayu, Kamila

Editor: Deo Ramdani. C

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *