Thursday, 5 November 2026
Opini

Victim Blaming: Bentuk Pencederaan Mental yang Tak Kunjung Kering

Oleh : : - Waktu Baca 4 menit
Geralt pixabay Hurun In Kamila

     Hari Kesehatan Mental Sedunia jatuh pada 10 Oktober. Hari penting tersebut mengangkat  tema “Mental Health is a Universal Human Right” pada 2023, dengan harapan aspek kesehatan mental dapat menjadi bagian dari hak asasi manusia. Namun, tidaklah adil apabila kampanye mental health hanya berfokus pada penderita tanpa menyingkap “pelaku” atas situasi yang terjadi.

          Artikel ini membahas sebuah perilaku di masyarakat yang dapat mengganggu kesehatan jiwa seseorang. Di samping playing victim–sikap menyalahkan orang lain dengan menempatkan diri sebagai korban, terdapat pula sikap menyalahkan suatu pihak yang membuatnya merasa “sudah jatuh tertimpa tangga” yang seringkali terabaikan: victim blaming.

Apa, sih, Victim Blaming Itu?

               Victim blaming merupakan sebuah istilah untuk menggambarkan fenomena ketika seseorang yang mengalami kekerasan, kejahatan, atau pelecehan justru disalahkan atas hal yang menimpanya. Korban umumnya membutuhkan ruang dan/atau seseorang untuk membantu pemulihan diri atas peristiwa yang dialaminya. Namun dalam kasus ini, ia justru harus menanggung beban ganda, alih-alih mendapat dukungan, korban dicari-cari kesalahannya kemudian ditimpa stigma negatif seolah-olah dirinya sendirilah yang bersalah atas perlakuan yang dialaminya.

            Victim blaming banyak terjadi pada kasus pelecehan seksual. Korban sering disalahkan akibat cara berpakaian, keluar malam, hingga bepergian sendiri.

“Kok gak langsung teriak minta bantuan? Menikmati, ya?”

“Makanya, jangan sering-sering keluar malam!”

“Pantes aja, orang bajunya model gitu.”

“Harusnya terima aja, sih, soalnya udah risiko jadi public figure.”

“Itu gara-gara branding-mu di sosmed kayak cewek nakal.”

dan sebagainya.

Apa Akibatnya?

                Akibat penjatuhan rasa bersalah, korban menjadi tertekan dan terganggu kesehatan mentalnya, merasa bersalah dan malu, tidak berani speak up karena dianggap sebagai aib, trauma, depresi, hingga muncul keinginan bunuh diri. Ketakutan korban untuk melapor dapat menghambat pencegahan kejahatan serta penegakan hukum. Dalam jangka panjang, kasus kejahatan serupa dapat merajalela disebabkan anggapan remeh karena tidak ada rasa bersalah pada para pelaku serta menguatnya stigma negatif bahwa korbanlah yang seharusnya menghindari risiko.

Bagaimana Mengatasinya?

               Perlu kesadaran dari seluruh pihak akan bahaya victim blaming yang dapat diperluas dengan upaya promosi serta edukasi tentang pentingnya dukungan kepada korban dan penekanan tanggung jawab pada pelaku. Tidak perlu menjustifikasi korban. Validasi bahwa korban tidak bersalah atas peristiwa yang menimpanya dapat diberikan, supaya korban tidak terlarut-larut dalam rasa bersalah. Penentangan terhadap segala sesuatu yang menimbulkan trauma korban juga penting dilakukan.

                Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi momen global untuk lebih memperhatikan kesehatan mental pada diri, meningkatkan kesadaran akan isu-isu kesehatan jiwa, serta memberikan dukungan untuk orang-orang yang membutuhkannya. Dengan pemahaman yang baik tentang victim blaming, setiap individu dapat mengambil peran dalam membantu pihak yang terjebak. Perlakuan ini bertujuan agar korban meraih kesehatan jiwa yang lebih baik, sehingga secara luas diharapkan terwujudnya kesehatan mental yang positif dan kontinu bagi setiap orang.

Penulis: Hurun`in Kamila

Editor  : Annisa Nabila

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *